 |
|
Friday, May 11, 2012
Indie Movie Workshop: Terlalu Banyak Pertanyaan
Halaman gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail dipenuhi segerombolan anak-anak muda, ada juga yang tampak masih berusia remaja. Gua mungkin termasuk makhluk yang rada ketuaan di kerumunan anak-anak muda ini. Di meja pendaftaran antrian tampak nggak seberapa panjang. Tapi di seudut-sudut teras gedung terlihat anak-anak muda tadi duduk-duduk di lantas sembari menisi form pendaftaran. Gua yang udah sejak beberapa hari lalu mengirimkan formulir pendaftaran via email, langsung masuk ke antrian. Sempat kuatir, jangan-jangan nggak boleh ikutan mengingat persyaratan peserta workshop ini usianya 18-30 tahun, sementara gua udah lebih tua enam tahun dari batas maksimal persyaratan usia. Memang, sih, gua udah dikonfirmasi sama salah teorang temen yang emang kerja sebagai panitia bahwa sebenarnya nggak dipatok usia berapa untuk ikut workshop. Persyaratan itu adalah bagi mereka yang mau lanjut ke tahap berikut esok harinya. Ternyata kekuatiran gua nggak berbuah kenyataan. Nama gua udah tercantum sebagai peserta yang sudah terdaftar, sehingga prosesnya nggak terlalu lama. Apalagi setelah gua nunjukin bukti trasfer biaya pendaftarannya. Nama Tag pun langsung gua dapet, dan gua langsung melenggang, masuk ke ruangan workshop yang lebih menyerupai bioskop.
Di atas panggung, dua layar putih berdiri menayangkan iklan LA Lights. Bersebelahan dengan layar sebelah kiri terpasang set peralatan tata cahaya serta peralatan shooting lainnya. Sementara, tak jauh dari layar sebelah kanan, sudah disusun peralatan band: ada drum set dan keyboard. Di tengah panggung sudah tersusun satu set sofa untuk melakukan talkshow, juga meja-meja kecil berlogo LA Lights sebagai pemanis dan sarana promosi. Ada lampu hias kecil di atas meja sofa. Kursi ruangan nyaris terisi penuh saat gua mulai duduk. Bahkan selala sesi workshop berlangsung pun, tetap banyak peserta workshop yang rela duduk di anak tangga.
Acara dimulai dengan terdengarnya intro musik dari film Jams Bond, kemudian samar-samar, di antara remangcahaya di atas panggung, MC yang bergaya melambai pun tampil dengan segala tingkah yang mengundang tawa peserta workshop. Setelah memberikan ice breaking beberapa saat, ditampilkan keynote speaker pertama, yakni sutradar kondang, Riri Reza menyampaikan pemaparannya. Dalam paparannya itu, Riri Reza bilang bahwa pada dasarnya pembuat film itu adalah pencerita gambar sehingga kemana-mana dia selalu merekam gambar2 yang menarik hatinya, baik melalui video kamera maupun dengan kamera foto. Riri pun sempat menayangkan sebagian foto-foto yang pernah dia ambil, yang menginspirasinya dalam proses pembuatan film. Maka dia pun menganjurkan para peserta untuk rajin mengambil gambar-gambar, harus peka terhadap gambar-gambar itu.
Di akhir sesi, Riri pun memperagakan sebuah proses penyutradaraan melalui sebuah script singkat yang dia susun semalam sebelumnya, tentang interaksi dua orang yang ternyata interaksi tersebut bukan berada dalam satu ruang yang sama melainkan dibuat sedemikian rupa agar tampak bahwa kedua karakter tadi berada pada dimensi ruang yang berbeda. Nah, untuk itu, di panggung yang ukurannya tidak seberapa luas itu, Riri menggunakan sarana yang ada serta meminta bantuan dari beberapa pelaku film yang saat itu berada di sekitar situ untuk mendukung peragaan proses penyutradaraan yang akan dia suguhkan. Ada Lukman Sardi dan Prisia Nasution yang didaulat sebegai pemeran film singkat itu, ada Mas Monod yang diminta menjadi juru kamera sekaligus penata cahaya dan sinematografi, serta sejumlah kru film lainnya. Sehingga di atas panggung itu satu set lokasi syuting pun tercipta, lengkap dengan peralatan syuting, peralatan tata cahaya, set desain produksi, sejumlah kru film, dua orang pemeran film dan seorang sutradara yang memberi arahan. Sesekali Riri menerangkan sejumlah hal yang dia peragakan kepada para peserta. Sampai kemudian, melalui proses editing oleh salah seorang editor yang saat itu hadir, maka hasil "syuting" film singkat itupun ditayangkan. Dan memang hasilnya memukau para peserta. Betapa tidak. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, Riri telah menghasilkan sebuah film singkat berdurasi kurang lebih dua menit itu. Kualitas film ini pun sangat bagus, karena memang kru yang mendukung pembuatannya sudah tergolong profesional. Beruntung banget gua bisa menyaksikan proses singkat itu secara langsung.
Sesi berikutnya membahas soal peran visual effects dalam sebuah produksi film. Pembicaranya Mas Amrin, pakar visual Effects yang udah banyak memproduksi sejumlah karya film. Sebagian besar untuk iklan TV. Dia memulai pemaparannya dengan sejarah film animasi yang ternyata sudah dimulai sejak tahun 1929, berikut peralatan sederhana yang dipakai pada saat itu. Barulah kemudian dia mengupas satu per satu karya-karya yang telah dia hasilkan, temasuk step-step before dan afternya. Dia memaparkan bagaimana sebuah visual effects itu bukan sekadar pemanis belaka, melainkan menghidupkan visualisasi film, menambahkan hal-hal yang secara teknis mustahil dilakuan melalui proses syuting di lokasi. Dia juga ditemani Mas Monod yang sering banget membantu dia sebagai Director of Photography sebagian karya-karyanya.
Sesi terakhir adalah pembahasan soal skenario film. Pembicara utamanya adalah Professor Richard Krevolin yang telah sering menjadi pengajar menganai skenario daam industri film Hollywood. Prof. K., demikian dia menyebut dirinya, ditemani penulis skenario favorit gua: Titin Wattimena. Sayang banget Titin gak banyak memaparkan dalam sesi ini karena sebagian jatah waktu yang ada diborong Prof. K dengan pemaparannya secara singkat apa itu skenario film serta sedikit teknik membangun sebuah cerita. Ada tujuh pertanyaan yang mesti diajukans ebelum seseorang menulis skenario film. Pertama, siapakah tokoh utama dalam cerita ini? Kedua, Apa yang menjadi keinginannya? Ketiga, Kenapa dia terus menerus berupaya meraih keinginannya ini? Keempat, bagaimana si tokoh utama mencapai keinginannya tadi dengancara-cara yang unik, tidak lazim dan baru? Kelima, apa yang mau lu katakan dengan mengakhiri cerita melalui serangkaian tindakan si tokoh utama tadi? Keenam, bagaimana lu akan menceritakan kisah tersebut? Terakhir, bagaimana si tokoh utama pada akhirnya mengalami perubahan dalam hidupnya di ujung cerita? Dalam sesi ini juga, diminta dua peserta yang hadir memaparkan ide cerita mereka untuk dikupas oleh Prof. K.
Dari sesi ke sesi memang disediakan waktu bagi peserta untuk bertanya. Sayangnya, terlalu banyak pertanyaan di kepala gua tentang dunia yang satu ini. Gua jadi nggak tahu mau mulai bertanya dari mana. Saat usai rangkaian sesi tadi pun, sebenarnya panitia menyediakan ruangan-ruangan semacam coaching clinic kepada para peserta. Dan sekali lagi, terlalu banyak pertanyaan, sampe akhirnya gue memutuskan menyerap aja dulu pengalaman seharian ini di kepala gua, semoga dari situ berbagai pertanyaan tadi pelan-pelan bisa terjawab dengan sendirinya. Semoga.
Posted at 11:50 pm by langitmerah
Permalink
Saturday, February 04, 2012
Hai, Blog. Hampir setengah tahun gua kagak nulis-nulis elu, ya. Semenjak ada Facebbok, gua rada sering nulis di situ. Walau itu pun dah jarang-jarang juga. Hmmm, dibilang sibuk, ya, kadang sibuk sama hal-hal yang gak jelas. Lagi gandrung ama editing video, jadi urusan nulis terbengkalai, dah.
Tapi, ada kesibukan lain juga, kok, yang berhubungan dengan tulis-menulis. Pertama, gue lagi rutin nulis renungan untuk SBP. Walaupun frekuensinya sebulan sekali, tapi saban kali mesti nulis tujuh renungan lumayan gempor juga. Kedua, lagi ada proyek duet nulis novel ama temen gua, Itor. Dia bikinin blog. Nama blognya: http://kolam-kata.blogspot.com/. Sekali-sekali, mampirlah kau ke situ. Idenya sederhana, pengen nulis novel berdua. Dia bikinin blog, terus kita tentuin dasar ceritanya. Abis itu gantian sambung menyambung entry tulisan kami masing-masing ke situ. Gua nulis kepingan pertama, dia nerusin kepingan kedua dan seterusnya. Pokoknya, harus kreatif nyari sambungan kepingan sebelumnya supaya tampak jadi cerita yang utuh. Mengasyikan. Walau kadang diserang jenuh juga, tergantung mood. Huehuehue. Sejauh ini udah sembilan kepingan kami bikin.
Ringkas ceritanya kayak gini. Tentang dua laki-laki yang memiliki alur hidup saling bertolak belakang. Tapi sama-sama mengarungi jalur hitam: dunia kriminal. Yang satu penjahat kere yang kadang jadi tukang copet, kadang jadi pembunuh bayaran. Yang satunya lagi penjahat kelas kakap yang ngegarong duit rakyat dengan intrik-intrik politiknya. Di satu titik keduanya akan bertemu, menjadi seteru. Inti ceritanya tentang keseimbangan, ketika kali ini giliran si kelas bawah yang akan melahap kelas atas. Kancil akan memakan buaya dan kelinci akan mencabik-cabik singa. Dah, sementara segitu dulu. Kisah selanjutnya silakan diikutin aja kepingan demi kepingan.
Semoga gua akan tetap sering ngunjungi dan cerita-cerita ke elu lagi, ya. Doain semoga mood nulis gua semakin tinggi setiap harinya. :-)
Posted at 08:36 pm by langitmerah
Permalink
Wednesday, May 18, 2011
Enam tahun silam gue pernah menulis blog tentang hobi gue menulis. Di situ gue juga berjanji untuk produktif menulis. Bahkan di blog itu gue juga bilang bahwa salah satu kendala gue gak terlalu produktif menulis lantaran gak punya komputer di rumah.
Sekarang gue udah punya gak cuma komputer, tapi laptop yang bisa dibawa kemana-mana. Semestinya gue bisa lebih produktif dari enam tahun silam. Bahkan telpon genggam gue pun dilengkapi fasilitas mencatat yang memungkinkan gue nulis di kakus sekalipun. Tapi nyatanya gue gak seproduktif enam tahun lalu. Gue dah jarang lagi nulis di blog gue. Bahkan gue dah gak pernah lagi nulis cerpen. Keinginan gue nulis sekadar keinginan semata tanpa ada realisasinya. Jangankan mimpi punya novel sendiri, nulis cerpen aja udah gak pernah lagi.
Mungkin emang manajemen slebor gue yang selama ini gue jalanin mesti diminimalisasi. Gue kudu lebih serius jalanin hobi gue yang satu ini. Bukan sekadar biar gue seneng aja, tapi jadiin ini jalan hidup gue. Sifat angin-anginan gue yang sepertinya udah jadi tabiat yang erat melekat dalam kepribadian gue, malah menjauhkan dan mengaburkan mimpi gue untuk menyelipkan di rak buku gue sebuah atau beberapa buku novel yang di situ tertera nama gue.
Yah, gue nulis ini sebenarnya sebagai "wake up alarm" yang ngebangunin gue dari tidur sebagai orang yang gak punya fokus. Umur gue udah mendekati kepala empat, tapi impian gue tadi belum juga bisa gue mulai. Sekarang ini udah gak ada alasan lagi semestinya untuk nggak menulis atau memulai menulis novel atau buku. Sejumlah buku panduan menulis udah gue baca berkali-kali. Istilahnya, udah saatnya gue kerja praktek, gak melulu melototin teori dan bertopang dagu ngebayangin kapan gue bisa jadi novelist.
Oke, alasan gue, gak juga bisa dapet ide, gue gak punya cukup waktu. Hmmm.... Gue punya motor. Gue bisa keluyuran cari ide. Internet udah memungkinkan 24 jam gue akses, kapan aja gue mau. Gue bisa cRi ide dari situ. Gue juga udah gak jadi dewan pemuda lagi, artinya waktu gue yang sebelumnya abis untuk ngurusin program-program dewan pemuda sudah bisa gue pakai untuk mulai menulis.
Gue sebenarnya tinggal memulai, itu aja. Seluruh sarana dan prasarana udah tersedia, tunggu apa lagi? Semoga tulisan ini nggak gue baca lagi beberapa tahun mendatang dengan rasa bersalah, karena belum juga bisa gue realisasiin.
Mari mulai menulis.
Posted at 02:47 am by langitmerah
Permalink
Tuesday, May 17, 2011
Liburan yang cuma sehari ini gue isi nyaris seharian penuh dengan nyampulin buku-buku. Hampir seluruh buku yang gue angkut ke kontrakan, yang jumlahnya sekitar 30-an buku, udah gue sampul. Udah lebih dari tiga gulung sampul plastik gue habiskan. Tersisa sekitar lima buku yang belum gue sampul karena badan udah lumayan pegel seharian ngegelesot di atas kasur, melipat plastik, mengguntingnya, merekatkan selotape serta menggunting kelebihan potongan plastik saat satu buku selesai tersampul. Musik mulai dari Incognito, Nirvana, Frente sampai Red Hot Chili Peper udah menemani seluruh rangkaian kegiatan gue itu. Memang baru liburan kali ini gue gak balik ke Depok. Karena orang rumah di Depok tampaknya lagi paskahan di Puncak, jadi sudah pasti kosong.
Entah udah berapa ratus koleksi buku yang gue punya. Di Depok seluruhnya tersimpan di dalam empat rak buku. Ada juga sekitar dua atau tiga ratusan buku yang belum punya “rumah” alias rak. Tertumpuk di sebelah dipan atau berjejer di atas lemari/rak. Belum lagi puluhan yang tersebar di sejumlah teman yang masih meminjam, dan belum mengembalikan. Bahkan ada juga yang gue hibahkan untuk kebutuhan pelayanan. Dari sekian banyak itu, mungkin baru 10% yang tersampul rapi. Dulu gue sempet rain nyampulin menggunakan stiker transparan yang gua dapet dari kantor lama, sisa material produksi yang gak mungkin dipakai lagi. Nah, sekarang pas gue dah gak kerja di sana lagi, gue jarang nyampulin buku-buku lagi. Pas suatu waktu gue mampir ke toko buku yang ngejual gulungan sampul plastik, mulailah gue bergairah nyampulin buku-buku lagi. Saban balik ke Depok, pasti yang gue kerjain cuma nyampulin buku, kalo memang gak ada kegiatan lain, seperti dateng kondangan, dateng ke ulang tahun anaknya temen atau ada pelayanan di gereja.
Di kontrakan pun gue beberapa kali menghabiskan malam dengan nyampulin buku. Buku seri Selamat-nya Andar Ismail sudah rampung seluruh serinya gue sampul plastik. Dan seharian ini, seperti tadi gue sebut, nyaris seluruh koleksi buku yang ada di kamar kontrakan udah tersampul rapi. Kegandrungan gue ngoleksi buku usianya barangkali udah lebihdari separuh umur gue. Koleksi buku yang gue kumpulin sejak masih SMP sampai sekarang udah lima belas tahun kerja masih banyak yang gue simpan. Ada juga sih yang hilang gara-gara gak rapi nyimpennya, rusak, ada juga yang gue jual. Sejak kecil di keluarga gue emang cuma gue dan kakak gue nomor lima yang punya hobi baca. Tapi sejak kakak gue itu kawin, gue jarang ngelihat kakak gue itu baca buku lagi. Mungkin udah sibuk ngurus anak dan suami.
Bisa dibilang, hampir segala jenis bacaan gue koleksi. Mungkin cuma buku resep masakan aja yang gue belum punya. Nah, kalo mau dirinci jenis-jenis buku bacaan yang gue punya, barangkali bisa dipaparkan seperti ini. Kebanyakan buku-buku fiksi, mulai dari novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, kumpulan naskah drama serta naskah skenario film sampai buku cerita rakyat. Buku non fiksi yang paling banyak adalah buku agama. Gak cuma buku agama Kristen aja, buku tentang agama Islam, Hindu, Budha, Khatolik juga gue koleksi. Selain itu ada juga buku psikologi, buku sejarah, biografi, buku-buku human interest. Buku-buku manajemen, biasanya gue beli untuk kebutuhan urusan kantor. Buku-buku Manajemen Proyek gue beli pas gue dapet tugas nanganin proyek besar di kantor gue yang lama. Buku Manajemen Pemasaran gue beli pas gue dapet tugas di Marketing Development, masih di kantor yang dulu, termasuk buku-buku aplikasi Excell guna menunjang kerjaan gue menganalisis pasar. Sedangkan buku-buku komputer gue beli karena gue juga orang yang gandrung dunia komputer. Namun berhubung pergerakan dunia komputer begitu cepat, sehingga banyak buku-buku komputer itu yang udah ketinggalan zaman karena sudah ada aplikasi versi terbarunya. Sehingga beberapa masih tersimpan rapi, gak pernah lagi gue sentuh. Buku non fiksi lain yang juga rada banyak gue koleksi adalah filsafat. Yeah, sejak gue baca novel tentang sejarah filsafat, DUNIA SOPHIE, gue jadi gandrung baca buku-buku filsafat. Mulai dari filsafat klasik sampai filsafat modern. Sejak Aristoteles sampai Habermas. Memang gak semua buku-buku itu tuntas gue baca. Sebagian besar yang tuntas gue baca itu buku-buku fiksi. Oya, buku non fiksi lain yang gue koleksi adalah buku-buku desain grafis. Bahkan majalah desain grafis, CONCEPT, sempat rutin gue beli. Sekarang udah lama nggak beli majalah CONCEPT lagi. Dulu buku-buku tentang desain grafis sangat jarang diterbitin. Paling yang ada buku-buku aplikasi komputer untuk desain grafis yang terbit. Kebanyakan buku desain grafis yang gue punya itu buku-buku impor. Hmmm... jenis bacaan apa lagi yang gue punya, ya? Ternyata gue gak terlalu inget lagi. Mungkin ada juga buku tentang interior, karena gue juga sempet ngegarap permintaan desain interior dari pelanggan kantor gue yang lama.
Koleksi-koleksi itu udah lebih dari dua puluh tahun gue kumpulin. Sewaktu belum kerja, biasanya buku-buku itu gue beli dari hasil nyisihin uang jajan, dan ada juga yang hasil nyolong. Sesudah kerja, saban gajian, pasti yang jadi tempat shopping pertama adalah toko buku. Bahkan kalo di Depok ada pusat perbelanjaan yang nggak ada toko bukunya, sudah dapat dipastikan pusat perbelanjaan itu sangat jarang gue datengin. Pas Gramedia masuk Depok, tempat inilah yang jadi tempat gue cuci mata saban lagi suntuk.
Ada kalanya gue pingin banget ngeberesin lagi buku-buku itu karena sejak gue pindah ke rumah kontrakan di Depok, susunannya udah acak-acakan. Dulu sempat rapi gue atur, mana yang fiksi, mana yang non fiksi. Mana yang deretan novel, mana yang bukan novel. Mana yang komputer, mana yang manajemen. Sekarang udah tercampur-campur antara buku-buku teologi dengan buku manajemen. Komik dengan buku komputer. Saban libur hari Sabtu, kadangkala gue punya keinginan untuk beresin. Tapi kadang ngelihat acak-acakannya aja udah males, apalagi ngeberesinnya. Udah gitu, satu rak ditempatkan di ruang tamu sementara tiga rak lainnya ada di kamar gue. Sementara katanya masih ada satu dus lagi di rumah kakak gue. Tapi memang harus direncanain. Bahkan kalo perlu ambil cuti dua hari untuk sekalian mendata buku-buku itu supaya gue bisa tahu, jumlah koleksi buku gue ada berapa. Jenis fiksi yang novel ada berapa dan seterusnya. Terus kalo dipinjem, bisa ketahuan dipinjem siapa, kapan.
Hmmm....
Posted at 11:22 pm by langitmerah
Permalink
Saturday, February 12, 2011
Senja dipahat menyerupai wajahmu Segala yang sepi di sini jadi lebih tegas Semua yang penuh tepi kini mengalun Selalu hening dan bening sisa senja Selamanya api dalam hati ini meletup Senja dipahat membentuk tubuhmu Segala yang sepi mengurung, meratap, menatap.
Posted at 08:24 pm by langitmerah
Permalink
Tuesday, February 17, 2009
Sejak beberapa kali saya menonton JESUS CHRIST SUPERSTAR, baik yang
versi indoor maupun outdoor, terbersit dalam kepala saya ingin pula
bikin drama musikal yang megah seperti itu. Sayangnya saya tak pandai
main musik, tak paham solmisasi, cuma bisa menuang kata-kata. Tapi
ternyata kesempatan untuk menulis naskah pun tak mudah, ada saja
halangan, bahkan lama-lama kelupaan. Sampai semalam saya mendadak
teringat obsesi itu. Lantas saja semalaman saya menulis sejumlah syair,
merangkainya agar lebih menarik. Tadinya saya mau memasang judul
MISALKAN KITA DI GOLGOTA, mencontek salah satu sajak Goenawan Mohamad,
MISALKAN KITA DI SARAJEVO. Tapi, kok, nggak sreg, maka terpilihlah
judul OPERA BUKIT TENGKORAK. Biar rada-rada serem.
Saya memang tak seratus persen menjiplak idenya Tim Rice dan Andrew
Lloyd Webber. Saya pingin mengembangkan situasi saat Tuhan Yesus
membawa salibnya, tergantung di sana dan mengucapkan tujuh perkataan
salib. Saya mau menekankan bagian itu saja. Dan semalam saya berhasil
menyelesaikannya sekaligus saya ketik pagi ini. Ini masih draft awal
karena masih berbentuk kumpulan syair belum digubah jadi lagu. Saya
masih butuh beberapa teman yang jago nulis lagu untuk bantu saja
merampungkan drama musikal ini.
Saya sendiri tak tahu persis mau diapakan naskah dan lagu-lagunya
nanti. Mungkin bisa dipakai dalam drama paskah gereja saya, atau mau
dipakai di gereja lain, belum ada pikiran ke situ. Saya cuma ingin
menulis naskahnya. Setidaknya, obsesi saya tidak cuma di awang-awang.
Dulu saya pernah cukup berhasil menyadur lagu LITTLE DRUMMER BOY
menjadi naskah drama musikal BOCAH PENABUH GENDANG dan dipentaskan di
acara natal gereja saya. Tak mengecewakan karena memang ada teman yang
pintar menggubah syair yang saya buat menjadi nyanyian yang enak
didengar.
Yah, semoga naskah ini ada gunanya....
Posted at 07:49 am by langitmerah
Permalink
Wednesday, February 11, 2009
Benjamin Button & Benjamin Button
Benjamin Button rekaan F. Scott Fitzgerald lewat cerita pendek yang
dirilis tahun 1921, lahir dalam bentuk seorang pria tua 70-an tahun
yang tubuhnya kecil. Entah bagaimana caranya dia bisa keluar dari rahim
ibunya yang juga selamat saat melahirkannya. Ayahnya, Roger Button,
terkejut mendapati bayi anehnya itu menyapanya, "Kaukah ayahku?" Lalu
Benjamin pun dibawa pulang dari rumah sakit mengenakan pakaian bocah.
Benjamin sempat ribut kepingin makan dan menolak minum susu botol.
Benjamin Button versi layar lebar yang diadaptasi Eric Roth dan Robin
Swicord dan digarap oleh Sutradara David Fincher, adalah seorang bayi
berbentuk aneh karena sekujur tubuhnya keriput layaknya pria renta. Dia
menangis khas seorang bayi. Ayahnya, Thomas Button, segera melarikannya
dari kediamannya di tengah kesedihan karena isterinya meninggal setelah
melahirkan dan kecewa karena memiliki anak bertubuh aneh.
Benjamin Button versi cerpen dan Benjamin Button versi film memang
berbeda. Memang, inti cerita keduanya serupa yakni berkisah tentang
kehidupan seorang pria yang lahir dalam keadaan tua dan mati saat usia
bayi karena usianya berjalan mundur. Namun ketika Fitzgerald bertutur
lewat cerpennya dengan lucu dan penuh sentuhan komedi, Eric Roth yang
juga mengadaptasi Forrest Gump
cenderung menyajikan kisah yang sarat dengan drama. Hampir keseluruhan
kisah mengundang haru. Dimulai dengan kisah seorang lelaki buta yang
menciptakan jam dinding yang jarumnya berputar berlawanan arah
semestinya karena mengenang kematian anaknya di medan perang dan
berharap bisa memundurkan waktu sehingga bisa kembali berjumpa dengan
anaknya. Ditambah lagi saat hubungan cinta Benjamin dan Daisy Fuller
yang sangat romantis harus berakhir. Benjamin Button rekaan Fizgerald
tak terlalu dipenuhi kisah romantis yang mendayu-dayu. Dia menikah
dengan Hildegarde Moncrief yang kemudian meninggalkannya ke Itali saat
Benjamin kuliah di Harvard.
Kelucuan yang dikisahkan Fitzgerald dipenuhi ironi. Ketika usia
Benjamin delapan belas tahun dan siap kuliah, dia ditolak mentah-mentah
saat mendaftar karena penampilannya yang tua renta layaknya berumur
lima puluh tahun. "Saya berusia delapan belas tahun!" pekik Benjamin
yang dibalas dengan usiran oleh bagian pendaftaran. "Saya kasih kamu
waktu 18 menit untuk segera keluar!" Belum lagi ketika dia dipanggil
oleh pemerintah Amerika karena pangkat Letnan Kolonel yang sempat
ditinggalkannya seusai dia ikut perang beberapa waktu lampau akan
dinaikkan menjadi Brigadir Jenderal, kembali staf angkatan darat
Amerika menolaknya karena penampilannya layaknya ABG berusia belasan
tahun.
Film The Curious Case of Benjamin Button yang tayang
beberapa waktu lalu itu dari segi kualitas cukup mempesona. Terutama
tata riasnya yang mampu menyulap Brad Pitt berwajah renta lantas
perlahan-lahan semakin muda bahkan jauh tampak muda dari usianya
sekarang, mendekati penampilannya saat bermain sebagai JD dalam Thelma dand Louis sekitar tahun 1991. Begitu juga permainan konflik dan drama yang mendayu-dayu tentu mampu mengharu biru pemirsanya.
Hollywood memang butuh cerita yang seperti itu, lebih menyentuh dan
tentu saja diharapkan lebih laku. Warner Bros seolah tak mau ambil
risiko membuat film yang sepenuhnya komedi dan agak datar sebagaimana
kisah aslinya yang dikutip dari kumpulan cerita Fitzgerald, Tales of the Jazz Age. Formula Love & Sex
tetap menjadi jualan yang sejalan dengan aroma Hollywood. Semua yang
terbiasa dengan tayangan renyah versi Hollywood tentu akan berkerut
kening bila menonton Osama karya Siddiq Barmak, atau menggaruk-garuk kepala mengikuti jalan cerita Turtles Can Fly karya Bahman Ghobadi.
Kendati masuk 13 nominasi Oscar, saya menilai film ini masih kalah jauh dibanding Forrest Gum ataupun Dances With Wolves. Kisahnya lebih mirip Titanic
karena dikisahkan secara kilas balik lewat sebuah buku harian bersama
penuturan perempuan renta yang tak lain adalah Daisy Fuller yang
mengisahkan latar belakang Benjamin Button kepada anaknya, Caroline.
Film yang durasinya lebih dari dua setengah jam ini cenderung lambat
dan cukup membosankan, layaknya drama nominasi Oscar. Akting Brad Pitt
yang dinominasikan sebagai aktor pria terbaik tak terlalu istimewa,
bahkan cenderung sangat standard, jauh lebih keren saat ia bermain
dalam Legend of the Fall .
Kita tunggu hasil perebutan piala Oscar nanti. Akankah Brad Pitt mampu
menyingkirkan Richard Jenkins, Frank Langella, Sean Penn dan Mickey
Rourke melalui aktingnya sebagai Benjamin Button? Saya justru menunggu
cerita pendek Fitzgerald ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Posted at 04:57 pm by langitmerah
Permalink
Friday, January 30, 2009
Saya sudah agak menduga ini. Sejak tukeran kado b5 tempo hari, nyaris semua meyakini calon bayinya DM kelaminnya berjenis laki-laki. Bahkan DM sudah nyiapin nama Samuel untuknya. Maka ketika kemarin Tuhan memanggil bayi tersebut, dengan yakin saya memasang status di YM ataupun di Facebook: "Selamat jalan, Samuel Manahera". Bahkan kemarin saya menulis blog dengan judul itu.
Ternyata, pas semalam saya datang ke RSIA Anna, ketemu DM dan Mirna yang tampak pucat (udah orangnya putih, pucat pula, kebayang kayak apaan kan) dan matanya sembab, barulah DM bilang bahwa mendiang bayinya itu perempuan. Namanya ILONA. Lengkapnya... hanya Mirna yang hafal. Terang saya dan DM tertawa-tawa saja membicarakan itu sembari menyantap nasi uduk di dekat rumah sakit. DM tampak sudah bisa menerima kehilangannya. Dia sudah lumayan banyak ketawa dan tersenyum menerima tamu yang belum juga reda. Teman-teman gereja, Pak Pras beserta isterinya dan lain-lainnya. Sempat pindah kamar. Sebelumnya Mirna di ruang pemulihan, tak lama pindah ke ruangan lain, berisi tiga dipan, dan dua di antaranya ksong. jadi cuma Mirna saja yang memakai kamar itu.
Mereka sudah pulang ke rumah keluarganya Mirna sore ini. Tadinya saya mau ke sana lagi bareng temen-temen kantor. Karena hujan, tertunda, entah sampai jam berapa.
Selamat jalan, Ilona. Apabila ada kesalahan nama dan gelar, mohon dimaafkan.
Posted at 05:31 pm by langitmerah
Permalink
Thursday, January 29, 2009
Selamat Jalan, Samuel Manahera. We love thee...
Pagi ini saya udah senewen pas Joyce bilang via YM calon bayinya DM kemungkinan prematur. Saya pernah mengalami punya keponakan yang prematur. Sungguh bikin miris. Tubuhnya hanya sebesar botol limun, kebiruan dan berbulan-bulan harus tinggal dalam inkubator dengan pencahayan yang tak terkira. Akibatnya, sampai di usia sembilan tahun, keponakan saya itu selalu mengeluh sakit mata dan mengucek-ngucek matanya setiap saat. Menderita sekali. Tak seberapa lama SMS dari DM masuk, minta dukungan doa karena bayi dalam kandungan Mirna prematur dan sungsang. Tambah senewen.
Beberapa menit kemudian, SMS dari DM masuk, bayi telah berhasil dikeluarkan... dalam keadaan meninggal. Dheg! Langsung saya kontak DM. Suara DM bergetar, kentara sekali sedang menahan isak. Tak sadar bening menutupi kedua mata saya. Saya juga pernah kehilangan keponakan, yang sedang lucu-lucunya, dua kali. Terlebih DM yang tak akan pernah melihat kelucuan anaknya itu.
Pas tukeran kado beberapa waktu lalu, kami pernah berdiskusi tentang nama anaknya DM. Kebetulan DM kasih ke Itor buku panduan mengurus bayi, ada selingan nama-nama bayi di situ. Saya lupa nama lengkap yang DM kasih buat anaknya, tapi nama depannya Samuel.
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu keridlaan menerima segala tiba Tak kutahu setinggi itu atas debu dan duka mahatuan bertahta (Chairil Anwar)
Selamat jalan, Samuel Manahera. DM, Mirna tabah ya....
b5 sedang mendung.... gerimis....
Posted at 11:36 am by langitmerah
Permalink
Saturday, January 17, 2009
Sejak BILA, nyaris 15 tahun saya gak lagi menemukan karya bubin. Padahal sekitar tahun 90-an, saya sangat menggemari karya-karya bubin. Kendati saya nggak pernah langganan HAI, sebisa mungkin, kalau ada karya bubin dimuat, saya usahakan beli dengan risiko nggak ngerokok selama beberapa hari. :-) Lalu mengisi kekosongan akan karya sastra yang menggugah, saya beralih ke Seno Gumira Ajidarma dengan imajinasi yang liar dan surealisnya. Sambil sesekali menikmati alunan kata-kata Goenawan Mohamad.
Lalu kemarin, guna melepas kejenuhan, saya mampir ke Gramedia Depok. Walau saya nyaris hafal buku-buku apa yang dipajang karena beberapa hari lalu sudah ke situ dan nggak ada niat apa-apa selain mau cuci mata, saya belokkan motor saya ke area parkir Gramedia. Di Gramedia Depok memang sedang ada renovasi, jadi agak sumpek dan sempit. Di salah satu rak buku-buku baru, saya terusik sebuah buku berjudul "Kisah Langit Merah". Nama Langit Merah pertama kali saya lihat di cerbungnya bubin berjudul "Beri Aku Hidup". Sejak itu saya menyematkan nama itu sebagai nama samaran atau nama virtual buat friendster, facebook ini ataupun blogdrive saya. Entah kenapa nama itu menempel terus di kepala saya begitu saya melihatnya. Pas saya perhatikan novel tersebut tertera nama pengarangnya Bubin Lantang (bukan lagi bubin LantanG), tanpa pikir panjang saya ambil novel tersebut tanpa perlu melihat lagi ringkasan dan lain-lainnya. Saya tak peduli berapa pun harganya.
Di rumah, tentu saja, saya abaikan dulu Anne Frank. Langsung saya lahap "Kisah Langit Merah" semalaman tandas sampai halaman terakhir. Di awal-awal saya agak kecewa karena bubin seolah kehilangan gregetnya dan sekilas terlihat tak beda dengan Edensor-nya Andrea Hirata yang berkisah tentang kehidupan mahasiswa S2 yang dapat beasiswa di Eropa. Tokoh Langit Merah ini pun juga mendapat bea siswa di Belanda dan seringkali telalu banyak menjelaskan hal-ihwal tentang Belanda sebagaimana pernah diceritakan Andrea. Tapi begitu sudah mencapai pertengahan halaman, barulah ciri khas bubin yang senantiasa bertutur getir mulai tampak.
Rasanya, membaca KLM ini saya seakan tengah membaca kembali BILA dalam format waktu masa kini, saat tokoh Fay di BILA sudah berusia 34 tahun dan berganti nama menjadi Langit Merah. Di novel setebal 318 halaman itu kembali sang tokoh utama harus berhadapan dengan cinta beda agama. Kali ini kekasih Langit bernama Daria, sementara dulu tambatan hati Fay bernama Puji. Juga berisi kilasan-kilasan masa silam yang melintas dan bersliweran di benak tokohnya begitu khas bubin gambarkan. Mungkin pengarangnya memang belum bisa melepaskan diri dari semua yag pernah diciptanya lewat BILA.
Sepertinya novel ini pun merupakan novel semi-biografi bubin. Karena di beberapa kisah di novelnya ini terdapat pula peristiwa nyata yang dia tuangkan dalam blog pribadinya di bubinlantang.wordpress.com. Cerita tentang pekerjaannya selama sekian tahun di sebuah koran terbesar juga dikisahkan lewat tokoh Langit Merah ini. Walau tak disebutkan apa nama koran terbesar itu, tentu kita tahu apa koran terbesar di Indonesia saat ini. Begitu juga ketika bubin harus dipecat secara halus dari kantornya itu lewat pemindahan secara mendadak ke kantor Batam lantaran kegigihannya memberitakan kebusukan para koruptor di negeri ini, juga dikisahkan di novelnya. Bahkan nama pemimpin perusahaan koran terbesar itu dianagramkan menjadi Bejo Okatama (kalau hurufnya mau dibolak-balik, maka munculah nama pemilik koran terbesar di Indonesia ini).
Yang saya sayangkan dari novel ini adalah kemasan sampulnya yang sangat ABG dan girly padahal cerita di dalamnya jauh dari kesan itu. Memang sih ada ilustrasi sebuah pohon dengan ranting yang bercabang banyak yang memang filosofi yang dia ciptakan sejak JEJAK JEJAK. Namun warna merah jambu atau ungu muda dan biru muda tidak mewakili kesan "langit merah" yang saya bayangkan. Mungkin takut bersaing dengan sampul novel TWILIGHT karya Stephanie Meyer terbitan Gramedia.
Yang pasti, saya menyambut gembira karya mutakhir bubin ini dan menunggu karya-karyanya yang lain.
Saya tungu, Bin!
Posted at 06:24 pm by langitmerah
Permalink
|
|
|
|
 |
|
|
Apa arti sebuah nama?
Ketika kita menyebutnya mawar
Dengan nama lain pun dia akan tetap sama harumnya;
(Potongan Monolog Juliet dalam Romeo & Juliet, William Shakespeare)
|
|
|
Be understanding to your enemies,
Be loyal to your friends.
Be strong enough to face the world each day.
Be weak enough to know you cannot do everything alone.
Be generous to those who need your help.
Be frugal with what you need yourself.
Be wise enough to know that you do not know everything.
Be foolish enough to believe in miracles.
Be willing to share your joys.
Be willing to share the sorrows of others.
Be a leader when you see a path others have missed.
Be a follower when you are shrouded by the mists of uncertainty.
Be the first to congratulate an opponent who succeeds.
Be the last to criticize a colleague who fails.
Be sure where your next step will fall, so that you will not tumble.
Be sure of your final destination, in case you are going the wrong way.
Be loving to those who love you.
Be loving to those who do not love you, and they may change.
Above all, be yourself.
|
|
|
 |