 |
|
Tuesday, February 17, 2009
Sejak beberapa kali saya menonton JESUS CHRIST SUPERSTAR, baik yang
versi indoor maupun outdoor, terbersit dalam kepala saya ingin pula
bikin drama musikal yang megah seperti itu. Sayangnya saya tak pandai
main musik, tak paham solmisasi, cuma bisa menuang kata-kata. Tapi
ternyata kesempatan untuk menulis naskah pun tak mudah, ada saja
halangan, bahkan lama-lama kelupaan. Sampai semalam saya mendadak
teringat obsesi itu. Lantas saja semalaman saya menulis sejumlah syair,
merangkainya agar lebih menarik. Tadinya saya mau memasang judul
MISALKAN KITA DI GOLGOTA, mencontek salah satu sajak Goenawan Mohamad,
MISALKAN KITA DI SARAJEVO. Tapi, kok, nggak sreg, maka terpilihlah
judul OPERA BUKIT TENGKORAK. Biar rada-rada serem.
Saya memang tak seratus persen menjiplak idenya Tim Rice dan Andrew
Lloyd Webber. Saya pingin mengembangkan situasi saat Tuhan Yesus
membawa salibnya, tergantung di sana dan mengucapkan tujuh perkataan
salib. Saya mau menekankan bagian itu saja. Dan semalam saya berhasil
menyelesaikannya sekaligus saya ketik pagi ini. Ini masih draft awal
karena masih berbentuk kumpulan syair belum digubah jadi lagu. Saya
masih butuh beberapa teman yang jago nulis lagu untuk bantu saja
merampungkan drama musikal ini.
Saya sendiri tak tahu persis mau diapakan naskah dan lagu-lagunya
nanti. Mungkin bisa dipakai dalam drama paskah gereja saya, atau mau
dipakai di gereja lain, belum ada pikiran ke situ. Saya cuma ingin
menulis naskahnya. Setidaknya, obsesi saya tidak cuma di awang-awang.
Dulu saya pernah cukup berhasil menyadur lagu LITTLE DRUMMER BOY
menjadi naskah drama musikal BOCAH PENABUH GENDANG dan dipentaskan di
acara natal gereja saya. Tak mengecewakan karena memang ada teman yang
pintar menggubah syair yang saya buat menjadi nyanyian yang enak
didengar.
Yah, semoga naskah ini ada gunanya....
Posted at 07:49 am by langitmerah
Permalink
Wednesday, February 11, 2009
Benjamin Button & Benjamin Button
Benjamin Button rekaan F. Scott Fitzgerald lewat cerita pendek yang
dirilis tahun 1921, lahir dalam bentuk seorang pria tua 70-an tahun
yang tubuhnya kecil. Entah bagaimana caranya dia bisa keluar dari rahim
ibunya yang juga selamat saat melahirkannya. Ayahnya, Roger Button,
terkejut mendapati bayi anehnya itu menyapanya, "Kaukah ayahku?" Lalu
Benjamin pun dibawa pulang dari rumah sakit mengenakan pakaian bocah.
Benjamin sempat ribut kepingin makan dan menolak minum susu botol.
Benjamin Button versi layar lebar yang diadaptasi Eric Roth dan Robin
Swicord dan digarap oleh Sutradara David Fincher, adalah seorang bayi
berbentuk aneh karena sekujur tubuhnya keriput layaknya pria renta. Dia
menangis khas seorang bayi. Ayahnya, Thomas Button, segera melarikannya
dari kediamannya di tengah kesedihan karena isterinya meninggal setelah
melahirkan dan kecewa karena memiliki anak bertubuh aneh.
Benjamin Button versi cerpen dan Benjamin Button versi film memang
berbeda. Memang, inti cerita keduanya serupa yakni berkisah tentang
kehidupan seorang pria yang lahir dalam keadaan tua dan mati saat usia
bayi karena usianya berjalan mundur. Namun ketika Fitzgerald bertutur
lewat cerpennya dengan lucu dan penuh sentuhan komedi, Eric Roth yang
juga mengadaptasi Forrest Gump
cenderung menyajikan kisah yang sarat dengan drama. Hampir keseluruhan
kisah mengundang haru. Dimulai dengan kisah seorang lelaki buta yang
menciptakan jam dinding yang jarumnya berputar berlawanan arah
semestinya karena mengenang kematian anaknya di medan perang dan
berharap bisa memundurkan waktu sehingga bisa kembali berjumpa dengan
anaknya. Ditambah lagi saat hubungan cinta Benjamin dan Daisy Fuller
yang sangat romantis harus berakhir. Benjamin Button rekaan Fizgerald
tak terlalu dipenuhi kisah romantis yang mendayu-dayu. Dia menikah
dengan Hildegarde Moncrief yang kemudian meninggalkannya ke Itali saat
Benjamin kuliah di Harvard.
Kelucuan yang dikisahkan Fitzgerald dipenuhi ironi. Ketika usia
Benjamin delapan belas tahun dan siap kuliah, dia ditolak mentah-mentah
saat mendaftar karena penampilannya yang tua renta layaknya berumur
lima puluh tahun. "Saya berusia delapan belas tahun!" pekik Benjamin
yang dibalas dengan usiran oleh bagian pendaftaran. "Saya kasih kamu
waktu 18 menit untuk segera keluar!" Belum lagi ketika dia dipanggil
oleh pemerintah Amerika karena pangkat Letnan Kolonel yang sempat
ditinggalkannya seusai dia ikut perang beberapa waktu lampau akan
dinaikkan menjadi Brigadir Jenderal, kembali staf angkatan darat
Amerika menolaknya karena penampilannya layaknya ABG berusia belasan
tahun.
Film The Curious Case of Benjamin Button yang tayang
beberapa waktu lalu itu dari segi kualitas cukup mempesona. Terutama
tata riasnya yang mampu menyulap Brad Pitt berwajah renta lantas
perlahan-lahan semakin muda bahkan jauh tampak muda dari usianya
sekarang, mendekati penampilannya saat bermain sebagai JD dalam Thelma dand Louis sekitar tahun 1991. Begitu juga permainan konflik dan drama yang mendayu-dayu tentu mampu mengharu biru pemirsanya.
Hollywood memang butuh cerita yang seperti itu, lebih menyentuh dan
tentu saja diharapkan lebih laku. Warner Bros seolah tak mau ambil
risiko membuat film yang sepenuhnya komedi dan agak datar sebagaimana
kisah aslinya yang dikutip dari kumpulan cerita Fitzgerald, Tales of the Jazz Age. Formula Love & Sex
tetap menjadi jualan yang sejalan dengan aroma Hollywood. Semua yang
terbiasa dengan tayangan renyah versi Hollywood tentu akan berkerut
kening bila menonton Osama karya Siddiq Barmak, atau menggaruk-garuk kepala mengikuti jalan cerita Turtles Can Fly karya Bahman Ghobadi.
Kendati masuk 13 nominasi Oscar, saya menilai film ini masih kalah jauh dibanding Forrest Gum ataupun Dances With Wolves. Kisahnya lebih mirip Titanic
karena dikisahkan secara kilas balik lewat sebuah buku harian bersama
penuturan perempuan renta yang tak lain adalah Daisy Fuller yang
mengisahkan latar belakang Benjamin Button kepada anaknya, Caroline.
Film yang durasinya lebih dari dua setengah jam ini cenderung lambat
dan cukup membosankan, layaknya drama nominasi Oscar. Akting Brad Pitt
yang dinominasikan sebagai aktor pria terbaik tak terlalu istimewa,
bahkan cenderung sangat standard, jauh lebih keren saat ia bermain
dalam Legend of the Fall .
Kita tunggu hasil perebutan piala Oscar nanti. Akankah Brad Pitt mampu
menyingkirkan Richard Jenkins, Frank Langella, Sean Penn dan Mickey
Rourke melalui aktingnya sebagai Benjamin Button? Saya justru menunggu
cerita pendek Fitzgerald ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Posted at 04:57 pm by langitmerah
Permalink
Friday, January 30, 2009
Saya sudah agak menduga ini. Sejak tukeran kado b5 tempo hari, nyaris semua meyakini calon bayinya DM kelaminnya berjenis laki-laki. Bahkan DM sudah nyiapin nama Samuel untuknya. Maka ketika kemarin Tuhan memanggil bayi tersebut, dengan yakin saya memasang status di YM ataupun di Facebook: "Selamat jalan, Samuel Manahera". Bahkan kemarin saya menulis blog dengan judul itu.
Ternyata, pas semalam saya datang ke RSIA Anna, ketemu DM dan Mirna yang tampak pucat (udah orangnya putih, pucat pula, kebayang kayak apaan kan) dan matanya sembab, barulah DM bilang bahwa mendiang bayinya itu perempuan. Namanya ILONA. Lengkapnya... hanya Mirna yang hafal. Terang saya dan DM tertawa-tawa saja membicarakan itu sembari menyantap nasi uduk di dekat rumah sakit. DM tampak sudah bisa menerima kehilangannya. Dia sudah lumayan banyak ketawa dan tersenyum menerima tamu yang belum juga reda. Teman-teman gereja, Pak Pras beserta isterinya dan lain-lainnya. Sempat pindah kamar. Sebelumnya Mirna di ruang pemulihan, tak lama pindah ke ruangan lain, berisi tiga dipan, dan dua di antaranya ksong. jadi cuma Mirna saja yang memakai kamar itu.
Mereka sudah pulang ke rumah keluarganya Mirna sore ini. Tadinya saya mau ke sana lagi bareng temen-temen kantor. Karena hujan, tertunda, entah sampai jam berapa.
Selamat jalan, Ilona. Apabila ada kesalahan nama dan gelar, mohon dimaafkan.
Posted at 05:31 pm by langitmerah
Permalink
Thursday, January 29, 2009
Selamat Jalan, Samuel Manahera. We love thee...
Pagi ini saya udah senewen pas Joyce bilang via YM calon bayinya DM kemungkinan prematur. Saya pernah mengalami punya keponakan yang prematur. Sungguh bikin miris. Tubuhnya hanya sebesar botol limun, kebiruan dan berbulan-bulan harus tinggal dalam inkubator dengan pencahayan yang tak terkira. Akibatnya, sampai di usia sembilan tahun, keponakan saya itu selalu mengeluh sakit mata dan mengucek-ngucek matanya setiap saat. Menderita sekali. Tak seberapa lama SMS dari DM masuk, minta dukungan doa karena bayi dalam kandungan Mirna prematur dan sungsang. Tambah senewen.
Beberapa menit kemudian, SMS dari DM masuk, bayi telah berhasil dikeluarkan... dalam keadaan meninggal. Dheg! Langsung saya kontak DM. Suara DM bergetar, kentara sekali sedang menahan isak. Tak sadar bening menutupi kedua mata saya. Saya juga pernah kehilangan keponakan, yang sedang lucu-lucunya, dua kali. Terlebih DM yang tak akan pernah melihat kelucuan anaknya itu.
Pas tukeran kado beberapa waktu lalu, kami pernah berdiskusi tentang nama anaknya DM. Kebetulan DM kasih ke Itor buku panduan mengurus bayi, ada selingan nama-nama bayi di situ. Saya lupa nama lengkap yang DM kasih buat anaknya, tapi nama depannya Samuel.
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu keridlaan menerima segala tiba Tak kutahu setinggi itu atas debu dan duka mahatuan bertahta (Chairil Anwar)
Selamat jalan, Samuel Manahera. DM, Mirna tabah ya....
b5 sedang mendung.... gerimis....
Posted at 11:36 am by langitmerah
Permalink
Saturday, January 17, 2009
Sejak BILA, nyaris 15 tahun saya gak lagi menemukan karya bubin. Padahal sekitar tahun 90-an, saya sangat menggemari karya-karya bubin. Kendati saya nggak pernah langganan HAI, sebisa mungkin, kalau ada karya bubin dimuat, saya usahakan beli dengan risiko nggak ngerokok selama beberapa hari. :-) Lalu mengisi kekosongan akan karya sastra yang menggugah, saya beralih ke Seno Gumira Ajidarma dengan imajinasi yang liar dan surealisnya. Sambil sesekali menikmati alunan kata-kata Goenawan Mohamad.
Lalu kemarin, guna melepas kejenuhan, saya mampir ke Gramedia Depok. Walau saya nyaris hafal buku-buku apa yang dipajang karena beberapa hari lalu sudah ke situ dan nggak ada niat apa-apa selain mau cuci mata, saya belokkan motor saya ke area parkir Gramedia. Di Gramedia Depok memang sedang ada renovasi, jadi agak sumpek dan sempit. Di salah satu rak buku-buku baru, saya terusik sebuah buku berjudul "Kisah Langit Merah". Nama Langit Merah pertama kali saya lihat di cerbungnya bubin berjudul "Beri Aku Hidup". Sejak itu saya menyematkan nama itu sebagai nama samaran atau nama virtual buat friendster, facebook ini ataupun blogdrive saya. Entah kenapa nama itu menempel terus di kepala saya begitu saya melihatnya. Pas saya perhatikan novel tersebut tertera nama pengarangnya Bubin Lantang (bukan lagi bubin LantanG), tanpa pikir panjang saya ambil novel tersebut tanpa perlu melihat lagi ringkasan dan lain-lainnya. Saya tak peduli berapa pun harganya.
Di rumah, tentu saja, saya abaikan dulu Anne Frank. Langsung saya lahap "Kisah Langit Merah" semalaman tandas sampai halaman terakhir. Di awal-awal saya agak kecewa karena bubin seolah kehilangan gregetnya dan sekilas terlihat tak beda dengan Edensor-nya Andrea Hirata yang berkisah tentang kehidupan mahasiswa S2 yang dapat beasiswa di Eropa. Tokoh Langit Merah ini pun juga mendapat bea siswa di Belanda dan seringkali telalu banyak menjelaskan hal-ihwal tentang Belanda sebagaimana pernah diceritakan Andrea. Tapi begitu sudah mencapai pertengahan halaman, barulah ciri khas bubin yang senantiasa bertutur getir mulai tampak.
Rasanya, membaca KLM ini saya seakan tengah membaca kembali BILA dalam format waktu masa kini, saat tokoh Fay di BILA sudah berusia 34 tahun dan berganti nama menjadi Langit Merah. Di novel setebal 318 halaman itu kembali sang tokoh utama harus berhadapan dengan cinta beda agama. Kali ini kekasih Langit bernama Daria, sementara dulu tambatan hati Fay bernama Puji. Juga berisi kilasan-kilasan masa silam yang melintas dan bersliweran di benak tokohnya begitu khas bubin gambarkan. Mungkin pengarangnya memang belum bisa melepaskan diri dari semua yag pernah diciptanya lewat BILA.
Sepertinya novel ini pun merupakan novel semi-biografi bubin. Karena di beberapa kisah di novelnya ini terdapat pula peristiwa nyata yang dia tuangkan dalam blog pribadinya di bubinlantang.wordpress.com. Cerita tentang pekerjaannya selama sekian tahun di sebuah koran terbesar juga dikisahkan lewat tokoh Langit Merah ini. Walau tak disebutkan apa nama koran terbesar itu, tentu kita tahu apa koran terbesar di Indonesia saat ini. Begitu juga ketika bubin harus dipecat secara halus dari kantornya itu lewat pemindahan secara mendadak ke kantor Batam lantaran kegigihannya memberitakan kebusukan para koruptor di negeri ini, juga dikisahkan di novelnya. Bahkan nama pemimpin perusahaan koran terbesar itu dianagramkan menjadi Bejo Okatama (kalau hurufnya mau dibolak-balik, maka munculah nama pemilik koran terbesar di Indonesia ini).
Yang saya sayangkan dari novel ini adalah kemasan sampulnya yang sangat ABG dan girly padahal cerita di dalamnya jauh dari kesan itu. Memang sih ada ilustrasi sebuah pohon dengan ranting yang bercabang banyak yang memang filosofi yang dia ciptakan sejak JEJAK JEJAK. Namun warna merah jambu atau ungu muda dan biru muda tidak mewakili kesan "langit merah" yang saya bayangkan. Mungkin takut bersaing dengan sampul novel TWILIGHT karya Stephanie Meyer terbitan Gramedia.
Yang pasti, saya menyambut gembira karya mutakhir bubin ini dan menunggu karya-karyanya yang lain.
Saya tungu, Bin!
Posted at 06:24 pm by langitmerah
Permalink
Tuesday, January 06, 2009
Cak Munir Yang Ada di Surga
Cak Munir yang ada di surga. Semoga dikenanglah namamu.
Engkau mungkin bukan Simson yang memiliki kekuatan ilahi yang sanggup
merubuhkan gedung besar. Tubuhmu cenderung kecil dan ringkih. Namun di
balik tubuh kecilmu itu tersimpan kepedulian yang besar untuk mereka
yang terampas keadilannya. Kau habiskan seluruh perhatianmu bagi mereka
yang terhilang dan tersisih. Segenap pengetahuanmu telah kau abdikan
untuk membela mereka yang dilanda kesewenang-wenangan.
Cak Munir yang ada di surga. Semoga tak dilupakan namamu.
Engkau tentu tahu kisah Daud melawan Goliat. Bukan tombak yang membuat
Goliat terkapar, melainkan hanya sebutir batu. Namun batu itu begitu
jitu menghantam titik lemah sang raksasa sehingga ia terjungkal dan
semaput. Kau pun tak memiliki armada perang dan tak bersenjatakan
senapan yang terkokang. Melainkan hasrat yang menggebu-gebu demi
tegaknya hak asasi manusia. Hak untuk bebas dari rasa takut.
Cak Munir yang ada di surga. Semoga diingat selalu namamu.
Kepergianmu mengundang tanda tanya. Betulkah engkau dipaksa pergi?
Orang sepertimu rupanya dianggap tak layak mendiami negeri ini. Orang
sepertimu hanyalah menjadi sebutir kerikil di dalam sepatu lars para
petinggi. Keberadaanmu begitu mengusik, mengganggu, membuat tak nyaman.
Sehingga di atas langit Hungaria nyawamu mesti lepas manakala pesawat
Garuda GA-974 tengah membawamu ke Amsterdam empat tahun silam.
Cak Munir yang ada di surga. Semoga dikenanglah namamu.
Adakah engkau mendengar lagi jeritan sunyi dari batin mereka yang
terampas dan terhempas? Karena keadilan belum bisa berdiri tegak lurus.
Karena kekejian melanda terus menerus. Dan negeri ini kehilangan sosok
yang begitu tulus menemani mereka yang hak hidupnya tergerus.
Cak Munir yang ada di surga. Semoga diingatlah selalu namamu.
Baiklah kami mencoba melanjutkan jejakmu yang sempat terhenti. Untuk
menjadi teman bagi mereka yang tersisih. Untuk membela mereka yang
diperlakukan tidak adil. Untuk membenci kejahatan dan menghargai
kehidupan. Karena negeri ini rindu suasana tenteram. Karena negeri ini
ingin melihat Bunda Pertiwi tersenyum.
Posted at 12:46 pm by langitmerah
Permalink
Tuesday, December 09, 2008
How to Read Maryamah Karpov
 Barangsiapa mengikuti tetralogi Laskar Pelangi dan kini sudah berada di ujung pembacaan, harap maklum bila saudara harus kecewa karena gagal menemukan kisah tentang tokoh pada judul buku keempat tetralogi tersebut: Maryamah Karpov. Saya sendiri berharap akan mengetahui siapa gerangan Maryamah Karpov yang sepanjang tetralogi hanya muncul pada buku Sang Pemimpi. Itu pun hanya disebut Mak Cik Maryamah, dengan seorang anak perempuan yang senang bermain biola.
Jadi cara membaca Maryamah Karpov dengan baik dan benar adalah, pertama, jangan terlalu berharap menemukan sosok Maryamah Karpov secara detail. Dan jangan pula mereka-reka hubungannya dengan tokoh utama kisah kita ini, Ikal. Hanya disebut sebagai seorang perempuan tua yang pintar menjalankan langkah-langkah biji catur menurut Karpov.
Kedua, kendati di bagian penjelasan tentang penulis dan prakata dari penerbit bahwasannya buku Andrea Hirata itu diberi genre baru: Cultural Literary Non Fiction, jangan pula menganggap kisah yang tertuang ini sebagai kejadian nyata. Tetaplah arahkan koridor pembacaan saudara bahwa bacaan ini adalah karya fiksi, rekaan. Kalau pun ada nama tempat dan nama tokoh yang nyata, tapi sejumlah penuturan cerita ini agak ganjil untuk diterima sebagai kenyataan.
Ketiga, karena judulnya itu membuat kita terkecoh, asumsikan saja bahwa penerbit Bentang sudah telanjur sesumbar memampang judul buku keempat sejak penerbitan buku kedua walau sebetulnya naskahnya saja belum tentu ada. Sehingga pada saat arah penceritaan Andrea berubah, pihak penerbit rada ogah mengubah judul sehingga ditambahkan saja sub judul: Mimpi Mimpi Lintang.
Keempat, kendati telah ada judul yang melampirkan nama Lintang, salah satu anggota Laskar Pelangi yang cukup fenomenal, jangan pula berharap porsi Lintang akan berlebih. Tokoh itu hanya sekali-sekali saja muncul. So, bayangkan saja Lintang di sini bukan sebagai sosok tetapi sebagai sebuah metafor atau sampiran saja. Mungkin Andrea teringat sebuah novel yang rada ilmiah karangan Alan Lightman, Mimpi Mimpi Einstein. Jadi nggak perlu terlalu berharap menemukan secara detail sosok Lintang di sini, sama halnya dengan nama Maryamah Karpov yang hanya dikisahkan sebanyak dua paragraf saja.
Kelima, membaca buku terakhir Laskar Pelangi ini, saya jadi teringat ketika menonton episode terakhir Pirates of Carribean (walau ada juga judul tentang Pirates of Carribean ini dalam novel tersebut). Banyak hal tak penting yang membuat kita terpaksa mengikutinya padahal itu tak akan mengubah keseluruhan alur. Sama halnya dengan novel terbaru Ayu Utami yang tebal itu, Bilangan Fu. Jadi, ketika ada beberapa bab yang kelihatannya membosankan, silakan lewatkan saja. Inti cerita hanya ada pada beberapa bab saja, sisanya mungkin hanya sekadar membuat buku jadi lebih tebal dan mahal.
Keenam, kendati begitu mengecewakan, saya tetap mengacungkan dua jempol kepada Andrea Hirata yang berhasil menancapkan fenomena baru dalam dunia kesusastraan negeri kita yang mulai murung karena tak lagi ada karya sekaliber Para Priyayi-nya Umar Kayam, Nyonya Talis-nya Budi Darma atau Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari.
Posted at 03:32 pm by langitmerah
Permalink
Monday, November 10, 2008
Pameran... pameran lagi.... pameran buku lagi. Saya mendapat info dari teman yang mengajak saya ke Jakarta Book Fair hari Rabu nanti. Wah, saya langsung cari info dengan mengandalkan Tuan Google. Yap, sejak 12-16 November 2008, di Jakarta Convention Center akan digelar lagi pameran ini. Saya menghitung jadwal, damn, sepanjang minggu ini saya banyak janji rapat. Besok rapat natal. rabu rapat evaluasi, kamis rapat dewan pemuda, jumat ke rumah Itor, nginep sampe Sabtu siang terus lanjut ke Cisarua. Mungkin hari Minggu saya ada kesempatan.
Ke pameran buku adalah kesempatan saya mendapat diskon besar dan bahkan bisa berburu buku langka. Bulan Juli lalu saya dateng ke Istora, pameran buku juga dan berhasil dapat kumpulan komik panji koming terbitan tahun 1981. Juga buku Nicomanchean Ethics seharga lima belas ribu. Cihuy. Tadinya saya udah senang banget bisa dapet edisi Durga Umayi-nya Romo Mangun, tapi harus menelan kekecewaan gara-gara buku tersebut harus dibeli satu paket dengan buku Romo Mangun yang lainnya.
Ke Pameran buku sekarang-sekarang ini sebenernya bikin saya merasa ironis karena dominasi penerbit islami, sementara penerbit kristen semakin terpojok dalam kesepian pengunjung. Sedih juga sewaktu ke stand BPK Gunung Mulia, sedikit banget yang mengunjungi. Penerbit Mizan kini jadi raksasa penerbit yang ukuran stand-nya separuh stand kelompok Gramedia. Pengunjungnya padat bahkan saya harus antri cukup lama ketika mau membayar. Penerbit kecil-kecil pun riuh dengan alunan pembacaan alquran atau irama gurun pasir khas dunia Arab. Pokoknya 80 persen peserta pameran rasanya dari penerbit muslim itu.
Sepertinya saya akan mencari cara menghindari rapat di hari Rabu yang sebetulnya saya prakarsai sendiri. Atau pas hari Minggu dengan risiko tak ada lagi diskon menarik atau justru pada hari terakhir itu harga dipangkas. Hmmm.... Kita lihat saja nanti deh.
Ada yang mau ikutan?
Posted at 05:30 pm by langitmerah
Permalink
Thursday, November 06, 2008
Tuan Obama dan Hal-hal yang Belum Selesai
Mari bertepuk tangan untuk Tuan Obama. Plok... plok... plok.... Selain karena ini adalah pencoblosan paling memukau sepanjang 100 tahun terakhir, kata media, dengan jumlah pencoblos terbanyak, ini juga pemilu paling monumental karena Tuan Obamalah orang afro-america pertama yang berhasil menghuni Gedung Putih. Padahal Amerika pernah memiliki sejarah kelam dalam hal rasialisme. Dan mengingat kembali pidato Martin Luther King Jr, yang mengimpikan kanak-kanaknya akan hidup di sebuah bangsa yang tak menilai manusia dari warna kulitnya melainkan dari kekuatan karakternya telah terwujud. Memang, standing ovation layak dilayangkan kepada Mr. President.
Tuan Obama pun diharapkan bisa menjadi FDR jilid dua yang mampu mengatasi krisis ekonomi Amerika, bahkan dunia, seperti halnya Depresi Besar di awal tahun 1930-an. Inilah pekerjaan rumah yang sudah menunggu di meja kerja Tuan Obama awal tahun depan. Belum lagi kondisi perdamaian Timur Tengah yang juga menuntut andil Amerika. Warisan kelam George W. Bush tentu akan membuat Tuan Obama harus bersedia kerja lembur.
Dengan jumlah pemilih yang mutlak dibanding seterunya, Mc Cain, artinya harapan sebagian besar rakyat Amerika telah berada pada pundaknya. Seolah inilah Mesias yang lama dinanti masyarakat Amerika yang diharapkan mendatangkan zaman keemasan. Dan rupanya, harapan itu tak cuma berasal dari warga Amerika sahaja. Banyak juga warga dunia yang menaruh harap Amerika bisa lebih "jinak" di tangan Tuan Obama. Terlebih kebijakan internasional Amerika Serikat sejak Tuan Bush memang membawa banyak keresahan.
Tapi sekali lagi, Tuan Obama yang bukunya sudah beredar jauh sebelum kepastian dia memenangkan kursi kepresidenan, yang namanya sudah melambung sejak tahun lalu dan menggeser Hillary Clinton dari kandidat presiden, memang belum teruji betul-betul. Kiprahnya memang tak banyak terekspos media sebelum ini. Kendati sikapnya yang rendah hati dan ojo dumeh ini membawa simpati banyak orang. Semoga karakter ini pula yang akan membawa perubahan signifikan dan menjadikan Amerika bisa lebih ramah dan tidak grasa-grusu.
Mari kita sekali lagi bertepuk tangan untuk Tuan Obama.
Plok... plok... plok....
"I have a dream that my four little children will one day live in a
nation where they will not be judged by the color of their skin, but by
the content of their character." - Martin Luther King Jr.
"If there is anyone out there who still doubts that America is a place
where all things are possible; who still wonders if the dream of our
founders is alive in our time, who still questions the power of our
democracy, tonight is your answer." - Barack H. Obama
Posted at 03:44 pm by langitmerah
Permalink
Monday, November 03, 2008
Amrozy, Imam Samudra dan Ali Gufron akan dieksekusi mati. Banyak pihak menanti apa yang akan terjadi. Keamanan diperketat karena beredar isu akan disebar bom ketika mereka dieksekusi nanti. Pihak keluarga heboh menyiapkan helipad, landasan helikopter yang membawa jenazah mereka yang dianggap syuhada itu. Tapi ada yang tertinggal yang belum selesai. Betulkah kita layak menghukum mati seseorang? Oke, kita akan bilang ini sebagai efek kejut supaya tidak terjadi lagi kejahatan serupa.
Tapi pertanyaan lainnya, siapa yang akan terkena efek kejut ini? Dalam kasus Amrozy cs yang dari sudut pandang kalangannya menganggap kematian mereka adalah sebuah perjuangan, jihad fisabililah, perjuangan di jalan Allah, keterkejutan yang terjadi justru bisa jadi memicu semangat yang semakin meletup-letup untuk mengikuti jejak Amrozy. Dan peledakan bom di tempat umum belum tentu berhenti ketika bedil meletus dan Amrozy cs terkapar.
Lalu, terpidana mati karena mengedarkan narkoba, adakah kemudian ini menimbulkan efek kejut untuk menghentikan peredaran narkoba? Rasanya tidak, karena narkoba terus beredar dan hukuman mati tetap terjadi.
Engkau bilang atas nama keadilan, mata ganti mata, nyawa dibayar nyawa. Keluargaku dibunuh si anu maka aku pun ingin si anu turut dibunuh. Dan kita akan terus menjadi makhluk pemangsa sesama sampai kapan pun, dengan mengatasnamakan keadilan. Dan Dewi keadilan akan mengintip dari balik penutup matanya dan melihat, siapa lagi yang layak dipancung hari ini? Dan seolah kematian adalah hal yang lumrah, kematian jadi sesuatu yang akrab.
Engkau mungkin akan bertanya kepada saya, adakah saya pernah mengalami keluarga saya mati disembelih di hadapan saya dan apa yang saya rasakan kala itu, bukankah seonggok dendam, amarah yang menyala-nyala? Betulkah saya akan tetap menentang hukuman mati bila satu dari anggota tubuh saya harus tanggal karena terkena bom itu? Mungkin saya akan dilanda amarah, mungkin seumur hidup saya akan dilanda dendam, tapi kuasa kematian, harus saya pahami, bukanlah ada pada saya.
Engkau akan bertanya lagi, kalau saya menentang hukuman mati, kenapa Amrozy cs diizinkan menghukum mati banyak orang yang dianggap tak sejalan dengan dirinya? Saya rasa gugatan ini memang sebaiknya dipertanyakan kepada siapapun yang menghalalkan membunuh orang lain. Ini yang harus digarisbawahi. Mereka yang menghalalkan pembunuhan untuk tujuan apapun jelas menihilkan sang empunya kuasa atas kematian. Beriman tanpa jadi Tuhan.
Yang pasti, nyawa seseorang itu memiliki nilai yang mulia, terlepas dari ketidakmuliaan si makhluk bernyawa ini. Tapi pada dasarnya, setiap makhluk diciptakan bernilai dan berharga. Manusia pun sama berharganya sekaligus juga sama nistanya. Sehingga meniadakan nyawa seseorang dari kehidupannya, tentu merupakan hal yang ironis.
Posted at 06:41 pm by langitmerah
Permalink
|
|
|
|
 |
|
|
Apa arti sebuah nama?
Ketika kita menyebutnya mawar
Dengan nama lain pun dia akan tetap sama harumnya;
(Potongan Monolog Juliet dalam Romeo & Juliet, William Shakespeare)
|
|
|
Be understanding to your enemies,
Be loyal to your friends.
Be strong enough to face the world each day.
Be weak enough to know you cannot do everything alone.
Be generous to those who need your help.
Be frugal with what you need yourself.
Be wise enough to know that you do not know everything.
Be foolish enough to believe in miracles.
Be willing to share your joys.
Be willing to share the sorrows of others.
Be a leader when you see a path others have missed.
Be a follower when you are shrouded by the mists of uncertainty.
Be the first to congratulate an opponent who succeeds.
Be the last to criticize a colleague who fails.
Be sure where your next step will fall, so that you will not tumble.
Be sure of your final destination, in case you are going the wrong way.
Be loving to those who love you.
Be loving to those who do not love you, and they may change.
Above all, be yourself.
|
|
|
 |