Tuesday, January 06, 2009
Cak Munir Yang Ada di Surga

Cak Munir yang ada di surga. Semoga dikenanglah namamu.
Engkau mungkin bukan Simson yang memiliki kekuatan ilahi yang sanggup merubuhkan gedung besar. Tubuhmu cenderung kecil dan ringkih. Namun di balik tubuh kecilmu itu tersimpan kepedulian yang besar untuk mereka yang terampas keadilannya. Kau habiskan seluruh perhatianmu bagi mereka yang terhilang dan tersisih. Segenap pengetahuanmu telah kau abdikan untuk membela mereka yang dilanda kesewenang-wenangan.

Cak Munir yang ada di surga. Semoga tak dilupakan namamu.
Engkau tentu tahu kisah Daud melawan Goliat. Bukan tombak yang membuat Goliat terkapar, melainkan hanya sebutir batu. Namun batu itu begitu jitu menghantam titik lemah sang raksasa sehingga ia terjungkal dan semaput. Kau pun tak memiliki armada perang dan tak bersenjatakan senapan yang terkokang. Melainkan hasrat yang menggebu-gebu demi tegaknya hak asasi manusia. Hak untuk bebas dari rasa takut.

Cak Munir yang ada di surga. Semoga diingat selalu namamu.
Kepergianmu mengundang tanda tanya. Betulkah engkau dipaksa pergi? Orang sepertimu rupanya dianggap tak layak mendiami negeri ini. Orang sepertimu hanyalah menjadi sebutir kerikil di dalam sepatu lars para petinggi. Keberadaanmu begitu mengusik, mengganggu, membuat tak nyaman. Sehingga di atas langit Hungaria nyawamu mesti lepas manakala pesawat Garuda GA-974 tengah membawamu ke Amsterdam empat tahun silam.

Cak Munir yang ada di surga. Semoga dikenanglah namamu.
Adakah engkau mendengar lagi jeritan sunyi dari batin mereka yang terampas dan terhempas? Karena keadilan belum bisa berdiri tegak lurus. Karena kekejian melanda terus menerus. Dan negeri ini kehilangan sosok yang begitu tulus menemani mereka yang hak hidupnya tergerus.

Cak Munir yang ada di surga. Semoga diingatlah selalu namamu.
Baiklah kami mencoba melanjutkan jejakmu yang sempat terhenti. Untuk menjadi teman bagi mereka yang tersisih. Untuk membela mereka yang diperlakukan tidak adil. Untuk membenci kejahatan dan menghargai kehidupan. Karena negeri ini rindu suasana tenteram. Karena negeri ini ingin melihat Bunda Pertiwi tersenyum.


Posted at 12:46 pm by langitmerah

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry
 



Apa arti sebuah nama?
Ketika kita menyebutnya mawar
Dengan nama lain pun dia akan tetap sama harumnya;

(Potongan Monolog Juliet dalam Romeo & Juliet, William Shakespeare)







 
<< January 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31



Be understanding to your enemies,

Be loyal to your friends.

Be strong enough to face the world each day.

Be weak enough to know you cannot do everything alone.

Be generous to those who need your help.

Be frugal with what you need yourself.

Be wise enough to know that you do not know everything.

Be foolish enough to believe in miracles.

Be willing to share your joys.

Be willing to share the sorrows of others.

Be a leader when you see a path others have missed.

Be a follower when you are shrouded by the mists of uncertainty.

Be the first to congratulate an opponent who succeeds.

Be the last to criticize a colleague who fails.

Be sure where your next step will fall, so that you will not tumble.

Be sure of your final destination, in case you are going the wrong way.

Be loving to those who love you.

Be loving to those who do not love you, and they may change.

Above all, be yourself.





 
Contact Me

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed