Sejak BILA, nyaris 15 tahun saya gak lagi menemukan karya bubin. Padahal sekitar tahun 90-an, saya sangat menggemari karya-karya bubin. Kendati saya nggak pernah langganan HAI, sebisa mungkin, kalau ada karya bubin dimuat, saya usahakan beli dengan risiko nggak ngerokok selama beberapa hari. :-) Lalu mengisi kekosongan akan karya sastra yang menggugah, saya beralih ke Seno Gumira Ajidarma dengan imajinasi yang liar dan surealisnya. Sambil sesekali menikmati alunan kata-kata Goenawan Mohamad.
Lalu kemarin, guna melepas kejenuhan, saya mampir ke Gramedia Depok. Walau saya nyaris hafal buku-buku apa yang dipajang karena beberapa hari lalu sudah ke situ dan nggak ada niat apa-apa selain mau cuci mata, saya belokkan motor saya ke area parkir Gramedia. Di Gramedia Depok memang sedang ada renovasi, jadi agak sumpek dan sempit. Di salah satu rak buku-buku baru, saya terusik sebuah buku berjudul "Kisah Langit Merah". Nama Langit Merah pertama kali saya lihat di cerbungnya bubin berjudul "Beri Aku Hidup". Sejak itu saya menyematkan nama itu sebagai nama samaran atau nama virtual buat friendster, facebook ini ataupun blogdrive saya. Entah kenapa nama itu menempel terus di kepala saya begitu saya melihatnya. Pas saya perhatikan novel tersebut tertera nama pengarangnya Bubin Lantang (bukan lagi bubin LantanG), tanpa pikir panjang saya ambil novel tersebut tanpa perlu melihat lagi ringkasan dan lain-lainnya. Saya tak peduli berapa pun harganya.
Di rumah, tentu saja, saya abaikan dulu Anne Frank. Langsung saya lahap "Kisah Langit Merah" semalaman tandas sampai halaman terakhir. Di awal-awal saya agak kecewa karena bubin seolah kehilangan gregetnya dan sekilas terlihat tak beda dengan Edensor-nya Andrea Hirata yang berkisah tentang kehidupan mahasiswa S2 yang dapat beasiswa di Eropa. Tokoh Langit Merah ini pun juga mendapat bea siswa di Belanda dan seringkali telalu banyak menjelaskan hal-ihwal tentang Belanda sebagaimana pernah diceritakan Andrea. Tapi begitu sudah mencapai pertengahan halaman, barulah ciri khas bubin yang senantiasa bertutur getir mulai tampak.
Rasanya, membaca KLM ini saya seakan tengah membaca kembali BILA dalam format waktu masa kini, saat tokoh Fay di BILA sudah berusia 34 tahun dan berganti nama menjadi Langit Merah. Di novel setebal 318 halaman itu kembali sang tokoh utama harus berhadapan dengan cinta beda agama. Kali ini kekasih Langit bernama Daria, sementara dulu tambatan hati Fay bernama Puji. Juga berisi kilasan-kilasan masa silam yang melintas dan bersliweran di benak tokohnya begitu khas bubin gambarkan. Mungkin pengarangnya memang belum bisa melepaskan diri dari semua yag pernah diciptanya lewat BILA.
Sepertinya novel ini pun merupakan novel semi-biografi bubin. Karena di beberapa kisah di novelnya ini terdapat pula peristiwa nyata yang dia tuangkan dalam blog pribadinya di bubinlantang.wordpress.com. Cerita tentang pekerjaannya selama sekian tahun di sebuah koran terbesar juga dikisahkan lewat tokoh Langit Merah ini. Walau tak disebutkan apa nama koran terbesar itu, tentu kita tahu apa koran terbesar di Indonesia saat ini. Begitu juga ketika bubin harus dipecat secara halus dari kantornya itu lewat pemindahan secara mendadak ke kantor Batam lantaran kegigihannya memberitakan kebusukan para koruptor di negeri ini, juga dikisahkan di novelnya. Bahkan nama pemimpin perusahaan koran terbesar itu dianagramkan menjadi Bejo Okatama (kalau hurufnya mau dibolak-balik, maka munculah nama pemilik koran terbesar di Indonesia ini).
Yang saya sayangkan dari novel ini adalah kemasan sampulnya yang sangat ABG dan girly padahal cerita di dalamnya jauh dari kesan itu. Memang sih ada ilustrasi sebuah pohon dengan ranting yang bercabang banyak yang memang filosofi yang dia ciptakan sejak JEJAK JEJAK. Namun warna merah jambu atau ungu muda dan biru muda tidak mewakili kesan "langit merah" yang saya bayangkan. Mungkin takut bersaing dengan sampul novel TWILIGHT karya Stephanie Meyer terbitan Gramedia.
Yang pasti, saya menyambut gembira karya mutakhir bubin ini dan menunggu karya-karyanya yang lain.
Saya tungu, Bin!
Posted at 06:24 pm by langitmerah
 |  |  |
Name August 29, 2009 10:05 AM PDT
Dear Langit,
Lam Nal, bagus resensinya. Cuma pengen nambahin aja. Yang g dapet dari sari KLM adalah kegelisahan BL, kegelisahan yg juga g rasain, percakapan dalam hatinya, suatu kesendirian yang hanya bisa dihayati oleh kesendirian juga, suatu ketidakberdayaan, kepasrahan sambil terus melangkah, keberanian tuk terus melangkah dalam ketidakberdayaan kita sebagai mahluk fana ini.
www.agusmariyanto.blogspot.com |
 |

 |  |  |
anak hilang March 15, 2009 09:36 PM PDT
resensi nya bagus, bro...:) |
 |

 |  |  |
DeJevo March 6, 2009 11:27 AM PST
tuh kan, saya juga merasakan ada roh Fay-Joe di Langit Merah - Mathari.
soal cover emang kurang laki, maklum aja yg bikin cewek sih. |
 |

 |  |  |
eethore alias julBINtor January 29, 2009 08:14 AM PST
lu manggil gw mon? |
 |