Wednesday, February 11, 2009
Benjamin Button & Benjamin Button

Benjamin Button rekaan F. Scott Fitzgerald lewat cerita pendek yang dirilis tahun 1921, lahir dalam bentuk seorang pria tua 70-an tahun yang tubuhnya kecil. Entah bagaimana caranya dia bisa keluar dari rahim ibunya yang juga selamat saat melahirkannya. Ayahnya, Roger Button, terkejut mendapati bayi anehnya itu menyapanya, "Kaukah ayahku?" Lalu Benjamin pun dibawa pulang dari rumah sakit mengenakan pakaian bocah. Benjamin sempat ribut kepingin makan dan menolak minum susu botol.

Benjamin Button versi layar lebar yang diadaptasi Eric Roth dan Robin Swicord dan digarap oleh Sutradara David Fincher, adalah seorang bayi berbentuk aneh karena sekujur tubuhnya keriput layaknya pria renta. Dia menangis khas seorang bayi. Ayahnya, Thomas Button, segera melarikannya dari kediamannya di tengah kesedihan karena isterinya meninggal setelah melahirkan dan kecewa karena memiliki anak bertubuh aneh.

Benjamin Button versi cerpen dan Benjamin Button versi film memang berbeda. Memang, inti cerita keduanya serupa yakni berkisah tentang kehidupan seorang pria yang lahir dalam keadaan tua dan mati saat usia bayi karena usianya berjalan mundur. Namun ketika Fitzgerald bertutur lewat cerpennya dengan lucu dan penuh sentuhan komedi, Eric Roth yang juga mengadaptasi Forrest Gump cenderung menyajikan kisah yang sarat dengan drama. Hampir keseluruhan kisah mengundang haru. Dimulai dengan kisah seorang lelaki buta yang menciptakan jam dinding yang jarumnya berputar berlawanan arah semestinya karena mengenang kematian anaknya di medan perang dan berharap bisa memundurkan waktu sehingga bisa kembali berjumpa dengan anaknya. Ditambah lagi saat hubungan cinta Benjamin dan Daisy Fuller yang sangat romantis harus berakhir. Benjamin Button rekaan Fizgerald tak terlalu dipenuhi kisah romantis yang mendayu-dayu. Dia menikah dengan Hildegarde Moncrief yang kemudian meninggalkannya ke Itali saat Benjamin kuliah di Harvard.

Kelucuan yang dikisahkan Fitzgerald dipenuhi ironi. Ketika usia Benjamin delapan belas tahun dan siap kuliah, dia ditolak mentah-mentah saat mendaftar karena penampilannya yang tua renta layaknya berumur lima puluh tahun. "Saya berusia delapan belas tahun!" pekik Benjamin yang dibalas dengan usiran oleh bagian pendaftaran. "Saya kasih kamu waktu 18 menit untuk segera keluar!" Belum lagi ketika dia dipanggil oleh pemerintah Amerika karena pangkat Letnan Kolonel yang sempat ditinggalkannya seusai dia ikut perang beberapa waktu lampau akan dinaikkan menjadi Brigadir Jenderal, kembali staf angkatan darat Amerika menolaknya karena penampilannya layaknya ABG berusia belasan tahun.

Film The Curious Case of Benjamin Button yang tayang beberapa waktu lalu itu dari segi kualitas cukup mempesona. Terutama tata riasnya yang mampu menyulap Brad Pitt berwajah renta lantas perlahan-lahan semakin muda bahkan jauh tampak muda dari usianya sekarang, mendekati penampilannya saat bermain sebagai JD dalam Thelma dand Louis sekitar tahun 1991. Begitu juga permainan konflik dan drama yang mendayu-dayu tentu mampu mengharu biru pemirsanya.

Hollywood memang butuh cerita yang seperti itu, lebih menyentuh dan tentu saja diharapkan lebih laku. Warner Bros seolah tak mau ambil risiko membuat film yang sepenuhnya komedi dan agak datar sebagaimana kisah aslinya yang dikutip dari kumpulan cerita Fitzgerald, Tales of the Jazz Age. Formula Love & Sex tetap menjadi jualan yang sejalan dengan aroma Hollywood. Semua yang terbiasa dengan tayangan renyah versi Hollywood tentu akan berkerut kening bila menonton Osama karya Siddiq Barmak, atau menggaruk-garuk kepala mengikuti jalan cerita Turtles Can Fly karya Bahman Ghobadi.

Kendati masuk 13 nominasi Oscar, saya menilai film ini masih kalah jauh dibanding Forrest Gum ataupun Dances With Wolves. Kisahnya lebih mirip Titanic karena dikisahkan secara kilas balik lewat sebuah buku harian bersama penuturan perempuan renta yang tak lain adalah Daisy Fuller yang mengisahkan latar belakang Benjamin Button kepada anaknya, Caroline. Film yang durasinya lebih dari dua setengah jam ini cenderung lambat dan cukup membosankan, layaknya drama nominasi Oscar. Akting Brad Pitt yang dinominasikan sebagai aktor pria terbaik tak terlalu istimewa, bahkan cenderung sangat standard, jauh lebih keren saat ia bermain dalam Legend of the Fall .

Kita tunggu hasil perebutan piala Oscar nanti. Akankah Brad Pitt mampu menyingkirkan Richard Jenkins, Frank Langella, Sean Penn dan Mickey Rourke melalui aktingnya sebagai Benjamin Button? Saya justru menunggu cerita pendek Fitzgerald ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Posted at 04:57 pm by langitmerah

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry
 



Apa arti sebuah nama?
Ketika kita menyebutnya mawar
Dengan nama lain pun dia akan tetap sama harumnya;

(Potongan Monolog Juliet dalam Romeo & Juliet, William Shakespeare)







 
<< February 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28



Be understanding to your enemies,

Be loyal to your friends.

Be strong enough to face the world each day.

Be weak enough to know you cannot do everything alone.

Be generous to those who need your help.

Be frugal with what you need yourself.

Be wise enough to know that you do not know everything.

Be foolish enough to believe in miracles.

Be willing to share your joys.

Be willing to share the sorrows of others.

Be a leader when you see a path others have missed.

Be a follower when you are shrouded by the mists of uncertainty.

Be the first to congratulate an opponent who succeeds.

Be the last to criticize a colleague who fails.

Be sure where your next step will fall, so that you will not tumble.

Be sure of your final destination, in case you are going the wrong way.

Be loving to those who love you.

Be loving to those who do not love you, and they may change.

Above all, be yourself.





 
Contact Me

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed