Benjamin Button & Benjamin Button
Benjamin Button rekaan F. Scott Fitzgerald lewat cerita pendek yang
dirilis tahun 1921, lahir dalam bentuk seorang pria tua 70-an tahun
yang tubuhnya kecil. Entah bagaimana caranya dia bisa keluar dari rahim
ibunya yang juga selamat saat melahirkannya. Ayahnya, Roger Button,
terkejut mendapati bayi anehnya itu menyapanya, "Kaukah ayahku?" Lalu
Benjamin pun dibawa pulang dari rumah sakit mengenakan pakaian bocah.
Benjamin sempat ribut kepingin makan dan menolak minum susu botol.
Benjamin Button versi layar lebar yang diadaptasi Eric Roth dan Robin
Swicord dan digarap oleh Sutradara David Fincher, adalah seorang bayi
berbentuk aneh karena sekujur tubuhnya keriput layaknya pria renta. Dia
menangis khas seorang bayi. Ayahnya, Thomas Button, segera melarikannya
dari kediamannya di tengah kesedihan karena isterinya meninggal setelah
melahirkan dan kecewa karena memiliki anak bertubuh aneh.
Benjamin Button versi cerpen dan Benjamin Button versi film memang
berbeda. Memang, inti cerita keduanya serupa yakni berkisah tentang
kehidupan seorang pria yang lahir dalam keadaan tua dan mati saat usia
bayi karena usianya berjalan mundur. Namun ketika Fitzgerald bertutur
lewat cerpennya dengan lucu dan penuh sentuhan komedi, Eric Roth yang
juga mengadaptasi Forrest Gump
cenderung menyajikan kisah yang sarat dengan drama. Hampir keseluruhan
kisah mengundang haru. Dimulai dengan kisah seorang lelaki buta yang
menciptakan jam dinding yang jarumnya berputar berlawanan arah
semestinya karena mengenang kematian anaknya di medan perang dan
berharap bisa memundurkan waktu sehingga bisa kembali berjumpa dengan
anaknya. Ditambah lagi saat hubungan cinta Benjamin dan Daisy Fuller
yang sangat romantis harus berakhir. Benjamin Button rekaan Fizgerald
tak terlalu dipenuhi kisah romantis yang mendayu-dayu. Dia menikah
dengan Hildegarde Moncrief yang kemudian meninggalkannya ke Itali saat
Benjamin kuliah di Harvard.
Kelucuan yang dikisahkan Fitzgerald dipenuhi ironi. Ketika usia
Benjamin delapan belas tahun dan siap kuliah, dia ditolak mentah-mentah
saat mendaftar karena penampilannya yang tua renta layaknya berumur
lima puluh tahun. "Saya berusia delapan belas tahun!" pekik Benjamin
yang dibalas dengan usiran oleh bagian pendaftaran. "Saya kasih kamu
waktu 18 menit untuk segera keluar!" Belum lagi ketika dia dipanggil
oleh pemerintah Amerika karena pangkat Letnan Kolonel yang sempat
ditinggalkannya seusai dia ikut perang beberapa waktu lampau akan
dinaikkan menjadi Brigadir Jenderal, kembali staf angkatan darat
Amerika menolaknya karena penampilannya layaknya ABG berusia belasan
tahun.
Film The Curious Case of Benjamin Button yang tayang
beberapa waktu lalu itu dari segi kualitas cukup mempesona. Terutama
tata riasnya yang mampu menyulap Brad Pitt berwajah renta lantas
perlahan-lahan semakin muda bahkan jauh tampak muda dari usianya
sekarang, mendekati penampilannya saat bermain sebagai JD dalam Thelma dand Louis sekitar tahun 1991. Begitu juga permainan konflik dan drama yang mendayu-dayu tentu mampu mengharu biru pemirsanya.
Hollywood memang butuh cerita yang seperti itu, lebih menyentuh dan
tentu saja diharapkan lebih laku. Warner Bros seolah tak mau ambil
risiko membuat film yang sepenuhnya komedi dan agak datar sebagaimana
kisah aslinya yang dikutip dari kumpulan cerita Fitzgerald, Tales of the Jazz Age. Formula Love & Sex
tetap menjadi jualan yang sejalan dengan aroma Hollywood. Semua yang
terbiasa dengan tayangan renyah versi Hollywood tentu akan berkerut
kening bila menonton Osama karya Siddiq Barmak, atau menggaruk-garuk kepala mengikuti jalan cerita Turtles Can Fly karya Bahman Ghobadi.
Kendati masuk 13 nominasi Oscar, saya menilai film ini masih kalah jauh dibanding Forrest Gum ataupun Dances With Wolves. Kisahnya lebih mirip Titanic
karena dikisahkan secara kilas balik lewat sebuah buku harian bersama
penuturan perempuan renta yang tak lain adalah Daisy Fuller yang
mengisahkan latar belakang Benjamin Button kepada anaknya, Caroline.
Film yang durasinya lebih dari dua setengah jam ini cenderung lambat
dan cukup membosankan, layaknya drama nominasi Oscar. Akting Brad Pitt
yang dinominasikan sebagai aktor pria terbaik tak terlalu istimewa,
bahkan cenderung sangat standard, jauh lebih keren saat ia bermain
dalam Legend of the Fall .
Kita tunggu hasil perebutan piala Oscar nanti. Akankah Brad Pitt mampu
menyingkirkan Richard Jenkins, Frank Langella, Sean Penn dan Mickey
Rourke melalui aktingnya sebagai Benjamin Button? Saya justru menunggu
cerita pendek Fitzgerald ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Posted at 04:57 pm by langitmerah