Sejak beberapa kali saya menonton JESUS CHRIST SUPERSTAR, baik yang
versi indoor maupun outdoor, terbersit dalam kepala saya ingin pula
bikin drama musikal yang megah seperti itu. Sayangnya saya tak pandai
main musik, tak paham solmisasi, cuma bisa menuang kata-kata. Tapi
ternyata kesempatan untuk menulis naskah pun tak mudah, ada saja
halangan, bahkan lama-lama kelupaan. Sampai semalam saya mendadak
teringat obsesi itu. Lantas saja semalaman saya menulis sejumlah syair,
merangkainya agar lebih menarik. Tadinya saya mau memasang judul
MISALKAN KITA DI GOLGOTA, mencontek salah satu sajak Goenawan Mohamad,
MISALKAN KITA DI SARAJEVO. Tapi, kok, nggak sreg, maka terpilihlah
judul OPERA BUKIT TENGKORAK. Biar rada-rada serem.
Saya memang tak seratus persen menjiplak idenya Tim Rice dan Andrew
Lloyd Webber. Saya pingin mengembangkan situasi saat Tuhan Yesus
membawa salibnya, tergantung di sana dan mengucapkan tujuh perkataan
salib. Saya mau menekankan bagian itu saja. Dan semalam saya berhasil
menyelesaikannya sekaligus saya ketik pagi ini. Ini masih draft awal
karena masih berbentuk kumpulan syair belum digubah jadi lagu. Saya
masih butuh beberapa teman yang jago nulis lagu untuk bantu saja
merampungkan drama musikal ini.
Saya sendiri tak tahu persis mau diapakan naskah dan lagu-lagunya
nanti. Mungkin bisa dipakai dalam drama paskah gereja saya, atau mau
dipakai di gereja lain, belum ada pikiran ke situ. Saya cuma ingin
menulis naskahnya. Setidaknya, obsesi saya tidak cuma di awang-awang.
Dulu saya pernah cukup berhasil menyadur lagu LITTLE DRUMMER BOY
menjadi naskah drama musikal BOCAH PENABUH GENDANG dan dipentaskan di
acara natal gereja saya. Tak mengecewakan karena memang ada teman yang
pintar menggubah syair yang saya buat menjadi nyanyian yang enak
didengar.
Yah, semoga naskah ini ada gunanya....
Posted at 07:49 am by langitmerah