Friday, October 31, 2008
Jika Saya Mati Nanti

Jika saya mati nanti, akan saya katakan pada keluarga saya, istri dan anak-anak saya, mungkin cucu dan cicit saya, jangan lagi saya ditanam, saya kan bukan tanaman. Dikremasi saja, jadikan saya kembali ke asal saya, debu, sesegera mungkin.

Jika saya mati nanti, entah masih adakah lahan yang kosong buat menanam jasad saya. Kalau pun ada, rasanya sia-sia saja sepetak tanah yang dipakai menguburkan jenazah saya itu, toh lama-lama tubuh saya akan membusuk, lalu menyatu dengan tanah. Padahal siapa tahu sepetak itu bisa dimanfaatkan untuk membangun rumah sangat sederhana sampai-sampai selonjoran saja susah, atau membangun jamban dan MCK. Jadi sudahlah, lupakan ide menguburkan tubuh saya, dibakar saja.

Jika saya mati nanti, debunya dibuang saja, tak usah disimpan-simpan. Kemana saja, terserah istri, anak-anak dan mungkin cucu-cucu saya. Apa artinya sepetak kuburan dan setoples debu kremasi sebenarnya? Untuk dikenang? Adakah sepetak kuburan menjadi sebuah simbol bahwa saya pernah hidup? Sebaiknya biarlah kenangan itu tersimpan dalam benak saja. Lagipula, biaya yang dikeluarkan untuk merawat dan memperindah kuburan saya, lebih baik dipakai untuk biaya sekolah anak-anak saya sampai mereka jadi doktor atau profesor. Tak perlu juga saban minggu dibawakan kembang segala, mending kembangnya dipakai untuk memperindah halaman rumah saja. Ditaruh di kuburan lama-lama layu dan bau busuk.

Jika saya mati nanti, tak perlu upacara yang susah-susah, cukup doa sebentar saja semoga yang saya tinggalkan bisa perlahan-lahan mengurangi kesedihannya (kalau memang mereka sedih), tak perlulah saya ditangisi, wong sudah mati, mau diapakan lagi. Tak perlu didoakan supaya jiwa saya selamat ke pangkuan Bapa, toh semasa saya hidup saya pasti sudah sering minta diberi keselamatan. Soal ke pangkuan Bapa atau kepangkuan siapa, ya sudahlah biarkan saja itu Tuhan yang atur. Doakan saja untuk mereka yang masih hidup.

Jika saya mati nanti, tak perlulah ada kebaktian pengucapan syukur. Cukup ibadah penghiburan saja, sebelum jenazah saya dikremasi. Menghibur yang masih hidup rasanya lebih terpuji, ketimbang mengucap syukur bagi yang mati; barangkali kesedihan itu masih ada, barangkali harapan itu terasa sirna dan butuh kekuatan lagi, ya hiburlah itu.

Jika saya mati nanti, tak perlulah ucapkan "Selamat Jalan" dan sebagainya, belum tentu saya bisa dengar. Segera saja dibakar dan abunya disebar, terlalu banyak buang waktu untuk kebaktian dan upacara-upacara malah melelahkan mereka yang masih hidup. Padahal banyak waktu bisa dipakai untuk menjalankan kehidupan yang berisi makna. Tak usahlah dibegadangkan segala, kalau ada cucu atau anak saya di luar negeri, ya kabari saja, itu sudah cukup, tak guna juga disuruh kembali ke Indonesia, buang-buang biaya saja. Kalau dia mau melihat saya yang terkakhir kalinya, suruh saja dia membayangkan wajah saya ketika dia terakhir kali ketemu saya, mungkin sebelum dia ke luar negeri. Toh pasti tak jauh-jauh amat bedanya. Tak perlulah ada keharusan memberikan penghormatan terakhir, hormati saja semasa saya hidup, karena harkat saya lebih berguna ketika saya masih hidup. Wong sudah mati, kok dihormati. Tak perlulah.

Jika saya mati nanti, dan apabila istri saya mau kawin lagi ya silakan segera kawin saja, jangan ditunda lama-lama. Dia pasti butuh teman untuk melewati hari-hari kehidupannya di masa datang. Lagipula, siapa tahu banyak juga yang menunggu jandanya.


Posted at 06:31 pm by langitmerah
Komentar (1)  

What So Special About GPIB?

Apa yang istimewa dari GPIB? Apa yang bisa membuat engkau mencintainya, mendamba dan menaruh harap padanya? Ibarat seorang putri remaja, apa yang bisa bikin engkau begitu terpikat dan merindunya penuh hasrat?

Adakah karena kedewasaannya? Di usia yang genap 60 tahun ini, tentu dia sudah kenyang pengalaman sehingga engkau akan merasa nyaman berada di sampingnya. Tapi toh masih banyak gereja yang lebih uzur dan lebih kaya pengalaman, yang lebih kenyang malang melintang di ranah pelayanan Tuhan. Apakah itu yang bisa membuatnya lebih istimewa? Mungkin tidak.

Adakah karena sebagai sebuah organisasi, dia memiliki perangkat yang lengkap, yang akan membuat dirimu tenang menjalani kehidupanmu bersamanya? Yang membuat dirimu tak risau menghadapi berbagai hal. Akan tetapi toh itu bukan sebuah keistimewaan yang signifikan. Sebuah organisasi memang lumrah melengkapi dirinya dengan sejumlah perangkat. Organisasi tanpa perangkat, ibarat seorang pendaki gunung yang hanya bermodalkan kolor sahaja. Mungkin dia akan tetap tiba di puncak, tapi dengan tubuh lebam dan remuk, bahkan berisiko hancur masuk jurang, tentu saja.

Atau... karena GPIB pun melengkapi dirinya dengan sumber daya insani yang cukup mumpuni. Bayangkan, di tingkat pimpinan jemaat saja titel S.Th. sudah niscaya mesti disandang. Bahkan bila IPK di bawah rata-rata jangan harap bisa bermimpi jadi pendeta GPIB. Bukankah itu sudah sangat istimewa? Di gereja lain, konon, mantan satpam gereja pun bisa jadi pendeta sonder S.Th. Tapi, ah... apalah arti SDM yang pintar di tengah "core business" gerejawi yang tak cuma membutuhkan nalar.

Atau... karena GPIB memiliki kekayaan keragaman budaya dalam jemaatnya? Mulai dari opung hingga Eyang, dari abang sampai akang. Sehingga tak perlu kuatir ada eksklusivisme budaya di situ. Tapi kenyataannya banyak juga gereja yang tetap hidup kendati di dalamnya tak memiliki keragaman seperti demikian.

Adakah karena GPIB saat ini memiliki armada yang besar, tersebar dari Sabang sampai Bau Bau; dari nunukan hingga Nusa Dua? Tapi betulkah kuantitas menentukan kualitas? Jika "ya", maka lumrah dia kau anggap istimewa, Kawan.

Jadi, sebenarnya apa istimewanya sebuah GPIB di matamu? Apa sebetulnya Raison d'Etre GPIB bagimu? Dari sudut fenomenologi Sartre, GPIB semestinya bukan sekadar sebuah Etre en soi yang begitu saja ada, teronggok di situ dan tak berarti. Dia, biar bagaimanapun, merupakan sebuah etre pour soi yang memiliki arti, karena tetap terkait dengan segala sesuatu di luar dirinya, yakni dirimu. Tapi betulkah kita butuh keistimewaan itu? Adakah mencinta harus berarti merengkuh yang istimewa? Yang buruk rupa sebaiknya enyah dariku, begitu katamu? Kadang memang hidup hanyalah menunda pertanyaan.

Tapi mungkin GPIB tak perlu istimewa di mata engkau. Karena betapa buruk rupanya GPIB, toh di balik dadamu tetap tersimpan rasa cinta itu, walau cuma sedikit. Tapi itu saja sudah cukup. Hubungan engkau dan GPIB barangkali seperti pernah dituturkan Seno Gumira Ajidarma, "kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati tapi sungguh mati memang hanya seperti dan sekali lagi hanya seperti, karena sesungguhnyalah hubungan cinta kami yang barangkali abadi itu adalah sesuatu yang diperjuangkan. Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan, cinta yang abadi adalah sesuatu yang diperjuangkan terus menerus, sehingga cinta itu tetap ada, tetap bertahan, tetap membara, tetap penuh pesona, tetap menggelisahkan, tetap misterius dan tetap terus menerus menimbulkan tanda tanya."

Selamat ulang tahun, GPIB. Kami ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Kami ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada (dipinjam dari sajak Sapardi Djoko Damono).


Posted at 12:15 pm by langitmerah
Silakan kasih komentar  




Tuesday, October 07, 2008
Laskar Pelangi

Akulah Langit
       Akulah Merah
        Akulah Jingga
          Akulah Kuning
            Akulah Hijau
                Akulah Biru
                    Akulah Nila
                        Akulah Ungu
                    Akulah Nila
                Akulah Biru
           Akulah Hijau
         Akulah Kuning
       Akulah Jingga
     Akulah Merah
Akulah Langit.


Posted at 08:57 am by langitmerah
Silakan kasih komentar  




Thursday, June 19, 2008
Senja

Kutitipkan senja ini kepadamu
Pasanglah pada dinding kamarmu
Di saat kalbumu terusik pandangi saja senja tadi
Sehingga kau menemukan kesenduan yang hangat
Sekaligus keteduhan yang memikat

Hanya senja ini yang bisa kusisipkan dalam ruang jiwamu
Semoga termakna segenap asa yang sedang terajut
Dalam senja ini dikau pun dapat menari meniti asa tadi

Jangan sampai senja ini hilang
karena dunia tanpa senja ibarat matahari yang enggan menyapa rembulan
Maka biarkan keduanya bercengkrama dalam rengkuhan senja ini
Menembusi waktu yang kadang semarak kadang sepi
Kadang bergejolak, kadang penuh janji

Mungkin suatu ketika kau bosan memandangi senja tadi
Simpan saja dalam lemari
tapi jangan kau hempaskan dalam api
Karena senja, umumnya, tak pernah mati....


Posted at 05:52 pm by langitmerah
Silakan kasih komentar  




Saturday, April 26, 2008
Ke Dokter

Akhirnya ke dokter juga. Mungkin sepanjang 10 tahun terakhir ini, gue ke dokter paling cuma 2-3 kali. Itu pun sebatas dokter klinik yang rate-nya di bawah Rp. 50,000. Artinya, emang, untunglah, gue belum pernah ngalamin sakit parah. Walau hati ketar-ketir juga, jangan-jangan bom waktu, neh, sekalinya sakit langsung sakit parah banget. Seperti kata salah satu bos gue yang perokok berat. "Perokok itu gak pernah sakit, lho, Mas. Langsung mati!" Hahaha!

 

Sebenernya pas sakit flu hari Kamis kemaren itu, gue nggak ngerasa perlu ke dokter. Wong cuma flu. Tapi, yah, sekali-sekalilah ke dokter lagi. Hehehe. Gue datang ke klinik gereja gue yang emang buka saban Senin, Rabu dan Jumat. Gue datang sekitar jam 2 dan cuma nunggu sekitar setengah jam karena pasien yang daftar sebelum gue cuma 2 orang, dan itu pun gak terlalu lama meriksanya. Pas guliran gue, yah akhirnya dibilang ada sedikit problem di paru-paru gue. Buset! Dan gue disuruh brenti ngrokok dulu untuk beberapa lama. Sama jangan dulu makan gorengan. Padahal dua jenis konsumsi itulah yang sejauh ini jadi konsumsi harian gue. Yah, okelah kalo brenti ngerokok gue bisa tahan. Lah tapi kalo gorengan? Mana tahan!

 

Dan bener aja, pas gue ngajar sekolah minggu dan ada waktu untuk makan siang, ya nekad aja gue santap dua biji risol dan satu biji tahu goreng. Emang sih malemnya gue jadi batuk-batuk lagi, tapi untunglah gak kelewat parah. Dan setelah sekian tahun itu, barulah gue menyantap lagi obat dari resep dokter. Hihihihi.

Posted at 03:32 pm by langitmerah
Komentar (1)  




Wednesday, April 23, 2008
Dua Buah Sandek

Pagi ini saya menerima sebuah sandek yang bunyinya demikian:

"Praise The Lord! Newly born: Eleazar Abraham Noah Sariwating (Ezar), 3,4 kg/50 cm, on Tuesday, 22nd of April 2008 at 21.13 at RSIA Hermina-Bekasi. We're so very happy and can't thank HIM enough. Niracle is closer than we think... // Bung Stephen-Dinda-Ezar"

Kemarin siang, saya menerima sandek juga dari seorang rekan GP di Samarinda:

"Selamat Siang. Bapak Didi kalalo, Ayah dari Pdt Desy hr jam 13.00 dipanggil Tuhan. Sekarang disemayamkan tp bpk joe Hariono."


Ada yang lahir, ada pula yang berakhir....

Om Didi Kalalo hilang... Ezar terbilang.

"Setiap bayi yang lahir membawa sebuah pesan bahwa Tuhan belum bosan dengan manusia"-Rabindranath Tagore.

"Bukan kematian benar menusuk kalbu/keridlaanmu menerima segala tiba/tak kutahu setinggi itu atas debu/dan duka mahatuan bertahta." - Chairil Anwar


Selamat atas anugerah terbesar bagi keluarga Sariwating
Turut Berduka bagi keluarga Kalalo


Posted at 09:00 am by langitmerah
Komentar (1)  




Friday, April 04, 2008
Ayat-ayat Fitna

 

Film  “Fitna” menjadi keramaian dalam jagad maya beberapa hari belakangan ini. Namun, entah kenapa saya tidak tertarik untuk meliriknya. Dari sejumlah cerita yang saya dengar, film yang konon berdurasi 15 menit ini berisi semacam laporan tentang kutipan-kutipan ayat Alquran yang menghalalkan penggunaan kekerasan bahkan pembunuhan sadis oleh umat muslim bagi mereka yang dianggap ”kafir”. Sehingga Geert Wilders, seorang politikus berkebangsaan Belanda yang menggarap film tersebut sempat mencap Alquran sebagai kitab fasis yang tak beda dengan Mein Kampf-nya Hitler.  Lagi-lagi kebebasan berekspresi versus kredibilitas sebuah agama merebak. Saya masih ingat betul ketika beberapa waktu lalu ada perlombaan membuat kartun yang mendiskreditkan Islam. Kini keadaan yang setali tiga uang terjadi lagi.

 

Saya tak habis pikir. Apa yang hendak dicapai oleh upaya ini? Bukankah kondisi seperti ini justru mencuatkan opini publik yang beragam dan cenderung mengusik kedamaian? Lantas timbul seonggok rasa benci dan semakin menciptakan seteru. Padahal sedang santer-santernya dunia berupaya menegakkan perdamaian. Dari sini agama akhirnya menjadi sesuatu yang kotor dan najis. Yang cuma berisi tudingan dan perasaan sinis yang menggebu-gebu. Padahal sebetulnya agama haruslah menjadi alat yang meninggikan harkat kemanusiaan sebagai wakil Sang Khalik di dunia ini. Agama harus menunjukan nuansa ilahi dalam kehidupan keseharian manusia dan menjadikan manusia betul-betul bernilai. Bukan malah menjadikan manusia tak berbeda dengan sekelompok binatang yang saling salak dan saling cakar guna merebut mangsanya.

 

Geert Wilders mungkin geregetan melihat begitu banyaknya fakta sejarah berisi kekerasan yang dianggap dimotori oleh umat muslim. Konstruksi yang terbangun di dunia Barat sudah mencap Islam sebagai agama yang lahir dari sebilah pedang. Tapi perlu diingat bahwa Islam pun menyumbangkan sebentuk peradaban yang menjunjung tinggi perdamaian. Ajaran-ajarannya tak jauh berbeda dengan prinsip cinta-kasih yang juga dianut oleh umat Kristen. Konon kata ”Islam” sendiri menyiratkan syalom itu.

 

Padahal, kalau kita mau jujur, dalam sejarah gereja pun tak sedikit pula sumbangan kekerasan yang diciptakan oleh gereja. Sejak kekristenan dimanjakan oleh Konstantin Agung, gereja kontan jadi pongah dan banyak tingkah. Alih-alih atas nama kemurnian ajaran, tak sedikit juga penyiksaan dan pembunuhan dilakukan kepada siapa saja yang dianggap mengganggu stabilitas ajaran tersebut. Saya tak akan pernah lupa kisah Michael Servetus yang dibakar hidup-hidup lantaran tidak sejalan dengan konsep Trinitas yang dipegang teguh oleh gereja. Dan John Calvin konon cuma melengos menyaksikan kenyataan ini. Malah, dalam bentuk penyiksaan intelektual, banyak  juga ilmuwan brilian yang harus menelan pil pahit. Di Amerika, di suatu kotanya, pernah buku ”The Origin of Species”-nya Darwin dimusnahkan dari sekolah-sekolah karena dianggap meracuni para pelajar.

 

Lalu apa lagi yang masih tersisa dari sebuah agama kalau di dalamnya kita justru menemukan perseteruan yang tak habis-habis? Tak heran bila Bertrand Russel memilih bertuhan tanpa agama. Karena memang yang dilihatnya adalah agama cuma menjadi sumber pergolakan konsep dan dogma. Agama mungkin mengajarkan seseorang untuk berkehidupan lebih baik, tapi apakah dengan begitu perlu ada agama Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Sikh atau sebagainya?  Rasanya tanpa cap Kristen atau Islam atau Buddha, seseorang bisa menjalani kehidupan yang baik. Ahmad Wahib pernah menulis dalam catatan hariannya, ”Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia.”

 

Kenyataan  bahwa fundamentalisme dan fanatisme yang berlebihan justru membuat mereka yang berupaya menekuni keberagamaannya menjadi miris dan gamang menjadikan agama ibarat cermin yang retak. Padahal, ketika seseorang pada akhirnya menjadi Kristen atau Islam atau Hindu, hal tersebut adalah sebuah dampak dari sejumput makna keilahian yang dia rasakan dari luar dirinya yang membuatnya bergetar sekaligus bergemar. Yang menjadikan dirinya begitu utuh menjadi manusia. Karena melalui kekristenannya, keislamannya, kehinduannya, dia menyadari ada yang jauh melampaui dirinya namun justru begitu melekat dalam dirinya, sebuah paradoks yang membuat eksistensinya lebih berarti di dunia ini.

 

Semoga Mr. Wilders dan entah siapa lagi akan berhenti mencacah keindahan kehidupan beragama menjadi berdarah-darah seperti ini. Sehingga agama tak lagi melahirkan manusia-manusia model Russell, Engels dan Marx yang menganggap kehidupan beragama adalah aib, candu, atau benda yang tak layak berada dalam sebuah peradaban.

 

Sudahlah Mr. Wilders....


Posted at 01:15 am by langitmerah
Komentar (1)  




Monday, March 31, 2008
Cinta dalam Serumpun Ayat

Setelah berkali-kali niat nonton film Ayat-ayat Cinta gak kesampean, malam minggu kemaren berhasil juga gue nonton bareng Daisy, Bung Zon, David  dan beberapa temen gereja gue. Hehe. Emang sih ini film bertema Islami, tapi toh gue dan beberapa temen ini penasaran juga pingin lihat film yang sedemikian heboh dan jadi tontonan berjuta umat. Apalagi, denger-denger dalam film ini ada plot tentang cewek Kristen yang masuk Islam. Jadi pingin tahu aja, gimana sih proses itu bisa terjadi.

 

Sekilas pengamatan gue atas keseluruhan film, gue justru gak terlalu melihat nuansa islami yang kuat. Tokoh utama memang seorang pemuda nan soleh dan nyaris tanpa cacat, mendekati malaikat. Tapi yang justru lebih ditonjolkan adalah romantika kisah cintanya. Belum lagi kehidupan poligami yang memang sempat santer jadi sorotan belakangan hari ini, tertayang dan jadi salah satu titik penceritaan film ini. Dan gue mendapat kesan film ini cuma berbeda sekian tingkat dari film ”Berbagi Suami” hasil garapan Nia Dinata.

 

Lantaran rasa penasaran (lagi), gue pun membaca novelnya supaya ngedapetin pembanding. Dan nyatanya, di novel justru lebih indah dan sangat islami. Di Novel gue melihat betapa kebanggaan akan nilai-nilai islami begitu dipegang kukuh oleh salah seorang cucu Adam. Okelah ada nada arogansi ketika Habiburrahman mengatakan bahwa Alquran adalah kitab yang paling banyak dibaca orang. Tapi gue sejauh ini menganggap itu cuma ungkapan kebanggaan saja atas kitab sucinya itu.

 

Dalam novel ternyata, kisah percintaan gak terlalu dikemas secara luas. Beda banget sama di film. Bisa dibilang, kalo di novel lebih kental nuansa “Ayat-ayat”-nya,sementara di film lebih ditonjolkan tema “cinta”-nya. Dan di satu sisi wajar ajalah karena memang tema cinta lebih menjual ketimbang pemaparan nilai-nilai. Kendati dalam novel pun Habiburrahman cukup piawai mengelola pengalimatan nilai-nilai islami dalam bentuk cerita. Cocok betul kalau judul yang kemudian dipilih adalah “Ayat-ayat Cinta”.

 

Dan justru dari situ gue bisa melihat perbedaan antara naskah novel dan naskah film. Dalam novel seringkali sebuah cerita menjadi semakin kuat berdasarkan perenungan para tokohnya, pergumulan batin masing-masing karakternya. Kendati di dalamnya penggambaran lokasi juga menjadi faktor penguat dalam cerita, tapi kondisi batin tokoh-tokohnya ini yang menjadi penentu sebuah novel itu bagus atau tidak. Saat Khaled Hosseini begitu lincah menggambarkan Afganistan sebelum dan sesudah perang dalam novel “A Thousand Splendid Suns”, justru pergumulan masing-masing tokohnya yakni Laila dan Maryamlah  yang menjadi kekuatan kisah itu.

 

Sementara dalam naskah film, segala sesuatu harus memiliki aspek visual. Suatu cerita bukan lagi dijelaskan, tetapi harus ditunjukkan. “SHOWING through actions sometimes works better than TELLING with dialogues,” kata David Trottier dalam “The Screenwriter’s Bible”. Ketika adegan bulan madu dalam film digambarkan melalui visualisasi Fahri dan Aisha yang menunggangi onta di padang gurun dengan nuansa keindahan padang pasir Mesir, di novel justru  rasa sayang Fahri dituturkan melalui ungkapan puitis atas setiap hal yang dia dapati dalam diri Aisha sambil memuji-muji keagungan Tuhan atas keindahan ciptaanNya itu yang tentunya bakalan garing kalau sampai itu ditayangkan dalam film.


Posted at 10:26 pm by langitmerah
Silakan kasih komentar  




Saturday, March 29, 2008
Dear Diary....

 

Gue gak nyangka buku pesenan gue dari www.amazon.com dah nyampe. Gw pikir masih lama karena biasanya waktu pengirimannya sebulan lebih. Malah satu buku yang juga gue order via online dari www.pasarionline.com yang kantornya di Bandung malah belum juga nongol.

 

Salah satu buku yang gue order dari www.amazon.com itu judulnya "The Freedom Writer Diary." Gue nekad beli setelah gue nonton film Freedom Writer yang dibintangi peraih dua Oscar, Hillary Swank. Film itu berangkat dari kisah nyata seorang guru bahasa, Erin Gruwell yang menginspirasi para muridnya yang semula bengal dan susah diatur untuk memakai medium buku harian sebagai bentuk aktualisasi diri.

 

Ide tersebut muncul manakala beredar sebuah gambar kartun bernuansa rasial yang beredar di kelas Erin. Dan sejak pertama memasuki kelas itu, Erin memang sudah bisa merasakan aroma rasial tersebut. Para muridnya saling berkelompok antara mereka yang berkulit hitam, keturunan  Asia, keturunan Amerika Latin, kulit putih dan sebagainya. Dan satu sama lain nggak akur. Lebih lagi di lingkungan sekitar sekolah juga acapkali terjadi perkelahian antar-geng di antara ras-ras yang berbeda. Entah itu geng kulit hitam lawan geng keturunan Asia atau lainnya.

 

Berangkat dari situ Erin mewanti-wanti para muridnya bahwa rasialisme itulah yang memicu tragedi kemanusiaan terbesar di zaman Hitler yakni Holocaust. Lalu Erin mengajak para murid mengunjungi salah satu museum tentang Holocaust yang menunjukkan kekejaman Nazi dengan  genosida kaum Yahudi-nya. Lalu Erin menghadiahi para muridnya sebuah buku berjudul "Anne Frank: The Diary of a Young Girl" yang merupakan saksi sejarah Holocaust yang berhasil merekam pergumulannya di zaman Nazi.

 

Selanjutnya, pada suatu kesempatan, Erin memberikan kepada masing-masing muridnya itu buku catatan yang bisa dipakai sebagai sebuah catatan harian mereka. Mereka diharapkan bisa menulis apa saja yang mereka rasakan, mereka alami, mereka cita-citakan, mereka benci dan sebagainya ke dalam buku catatan itu. Kalau di antara mereka yang bersedia buku catatan hariannya tersebut dibaca Erin, disediakan pula sebuah lemari sebagai tempat mereka meletakkan catatan harian tersebut.

 

Dan alangkah takjubnya Erin ketika beberapa hari kemudian didapati lemari tersebut telah terisi sejumlah catatan harian milik para muridnya dan Erin mulai membacanya satu per satu. Dari situlah dia memperoleh gambaran menyeluruh menganai pribadi murid-muridnya. Selain itu, para murid pun merasa enjoy dengan kegiatan menulis catatan harian itu. Catatan-catatan tersebut dikumpulkan dalam sebuah buku yang diberi tajuk "The Freedom Writer Diary".

 

Menulis catatan harian memang memiliki keasyikan tersendiri. Dan agaknya merupakan jenis karya sastra yang unik lantaran berisi pengejewantahan kehidupan batin seseorang. Karena keunikan inilah tak sedikit catatan harian yang kemudian dipublikasikan karena memang isinya dinilai memiliki pengaruh besar bagi orang lain. Sebut saja sejumlah buku harian yang pernah diterbitkan. Buku Harian Zlata Filipovic tentang masa kecilnya di tengah kecamuk perang Bosnia. Zlata yang menulis catatan hariannya sejak umur 9 tahun  terinspirasi pula oleh buku Anne Frank dan diberi kesempatan menulis kata pengantar dalam "The Freedom Writer Diary". Atau juga "Catatan Subversif" milik Mochtar Lubis yang ditulisnya semasa ia berada di  dalam penjara di zaman pemerintahan rezim Soekarno. Dan buku harian yang belum lama ini difilmkan, "Catatan Harian Seorang Demonstran" buah tangan Soe Hok Gie. Lalu ada lagi, milik seorang wartawan Tempo yang juga mati muda,  Ahmad Wahib, yang catatan hariannya kemudian dikumpulkan oleh Djohan Effendi dalam sebuah buku berjudul "Pergolakan Pemikiran Islam".

 

Che Guevara, seorang tokoh revolusioner yang kesehariannya berada di tengah kehidupan gerilya di Kuba pun hobi menulis catatan harian. Salah satu yang diterbitkan adalah catatan perjalanannya bersama sahabatnya mengarungi Amerika Latin dengan hanya mengendarai sepeda motor butut dalam "The Motorcycle Diary"yang juga sudah difilmkan. Bahkan seorang misionaris di Amerika Latin, Henri J. M. Nouwen, pernah juga menyumbangkan pengalamannya menyebarkan injil di lingkungan kumuh di Peru dalam jurnal yang kemudian diberi judul "Gracias! A Latin American Journal" Dan bentuk catatan harian ini rupanya tak cuma berasal dari tokoh-tokoh di dunia nyata. Bram Stoker menulis novelnya, "Dracula", memakai penyajian berbentuk catatan harian tokoh-tokoh novelnya. Ayu Utami juga menyelipkan sejumlah tulisan berbentuk catatan harian ke dalam "Saman" dan "Larung".

 

Dan gini-gini, gue juga sempat rajin nulis buku harian semasa SMA dulu. Bahkan sempat berjilid-jilid yang sayangnya sekarang udah pada entah kemana. Keasyikan itu terletak pada kebebasan gue menulis apa aja ke dalam buku itu. Toh yang baca cuma gue doang. Kecenderungan orang introvert emang begitu. Gak hobi ngobrolin sesuatu ke orang lain, curhatnya ke buku. Seolah gue curhat ama diri gue sendiri. Egois banget, yah?

 

Selepas SMA gue udah jarang lagi rutin nulis. Kadang aja sih sekali-sekali. Dan ketika sekarang gue udah memasuki abad virtual yang memperkenalkan gue pada medium weblog, tentu kebiasaan dulu terusik kembali. Meski memang nggak rajin-rajin amat ngisinya. Dan sambil menikmati "The Freedom Writer Diary", gue semakin mengagumi The Power of the Diary. Oh, Dear Diary….


Posted at 01:17 am by langitmerah
Silakan kasih komentar  




Wednesday, March 26, 2008
Friday With b5

Kok ya udah kayak tradisi saban tahun b5 ngadain tuker kado. Udah yang keempat kalinya tahun ini. Pertama kali diadain di rumah gue, terus tahun berikutnya di rumah DM (duh gw kangen banget ama rw bikinan nyokap lu, M). Abis itu gantian ke rumah Joyce. Nah tahun ini kebagian di rumah Itor, karena pas banget doi abis married. Tapi tahun ini kros kado terpaksa di-"split" jadi dua kali, hehehe. Pasalnya, pas bulan Februari lalu, Tiyo gak bisa ikutan, konon lagi ke Solo. Dan waktu itu dibikinnya di villanya sodaranya Itor, di Kota Kembang, Puncak.

 

Jadi, sepulang dari kantor pas hari Rabu, gue, DM dan Joyce langsung berangkat ke rumah Itor dulu. Nah abis dari situ barulah bersama Cica menuju ke Puncak, karena besoknya ada tanggal merah, imlek. Ide awalnya sih mo kayak backpacker, nih, ke rumah Itor naik angkot dan bis, tapi pas di kampung rambutan, semangat backpacker dah luntur lantaran badan gerah, dan capek abis kerja, udah gitu bis yang rada nyaman ke Bogor gak kelihatan batang hidungnya, eh jadinya malah nerusin naik taksi ke Bogor. Huahuahuahua.

 

Di Villa, udah hampir tengah malem. Mampir dulu makan sate kambing, sup kambing di puncak. Padahal sebelumnya kami berempat udah ngegarap steak di restoran Obong deket rumah Itor. Pantes aja perut kami-kami sudah saling balapan! Hehehe. Sesampai di Vila, langsung gelar tiker buat rebahan. Iseng main kartu, cangkulan. Karena cuma permainan itu yang semuanya bisa. Nah, asyiknya maen kartu ini lantaran kami berempat (Cica memilih tidur ketimbang ikutan sinting-sintingan) gak ada yang bener-bener jago. Semuanya dah pernah ngerasain ngocok dan gondok ngeliatin satu per satu lawan main mengurangi kartunya sementara kartu kita kok ya malah nambah! Sakin getolnya, permainan disudahi menjelang subuh. Gelo pisan! Esoknya, kita cuma jalan-jalan keliling kompleks VIla, liatin tukang kembang dan makan es duren. Ih, kenapa sih Tuhan harus menciptakan duren.... Dan dari tukang kembang itu Itor dan Cica beli beberapa pot kembang yang beberapa waktu kemudian malah tak kunjung berkembang. Hihihihi....Tukang aiti kok ya mau coba-coba jadi tukang kebon.

 

Setelah keliling-keliling, barulah kami bertukar kado. Gue dapet Kaos imlek dari Itor, Kaos juga dari Joyce, jam weker dari DM. Sementara gue ngasih novel Kite Runner berikut DVD bajakannya ke Itor, sendal ke Joyce dan buku Selamat Berbakti dan bingkai foto yang gue masukin di dos Atom O2 ke DM. DM sempet gondok tuh karena mengira beneran dapet PDA-phone O2 dari gue. Hihihihi.

 

Itu kros kado b5 jilid 1.

 

Nah jilid 2-nya, dilaksanai Jumat Agung lalu. Karena Tiyo kan belum kebagian kado dan gue, Itor, DM dan Joyce pun belum dapet kado dari Tiyo. Janjian sih jam 11, tapi jadinya malah jam 1 baru pada ngumpul semua. Janjian di Plaza Pangrango yang deket rumah Itor. Pertama dateng adalah gue, disusul Itor, terus DM. Joyce dan Tiyo masih rada jauh, masih pada baru berangkat dari Lebak Bulus! Buset! So, sementara nungguin aja di rumah Itor. Pas Joyce nelpon kalo dia dah nyampe, barulah balik lagi ke Plaza Pangrango. Pas banget si Tiyo dan Anna tiba di TPK gak lama ketika mobilnya Itor nyampe di depan Plaza. Dari situ langsunglah kami ke tempat makan yang sudah disepakati, Warung Bakso Seuseupan. Restoran ini juga yang sepulang dari Villa Itor kami datangin buat mengganjal perut yang semakin mengerucut. (Perut bisa mengerucut toh? Hahaha!) Bakso ini unik karena tetelan yang  biasanya berupa rebusan, ini malah digoreng jadi kayak gemuk babi yang digoreng garing itu. Jadi agak-agak gurih.

 

Usai makan, langsunglah kami ke rumah Itor yang di deket Tol. Di sana Cica dah menanti dan nyiapin cemilan. Astaga, perasaan belum lama makan bakso! Menuju ke rumah  Itor, mampir dulu beli Softdrink dan Es Krim, camilan wajib saban b5 ngumpul. Di rumah Itor, lagi-lagi kami main cangkulan. Karena pesertanya rada banyakan, ditambah Anna, Tiyo dan Mirna, jadi kartu yang biasanya dibagiin 7 lembar, kini cuma dibagiin 4 lembar saja. Kalo yang apes ya menumpuk kartu sebanyak-banyaknya, dan yang lagi hoki cuma empat kali jalan dan selesai. Kali ini Joyce gak main. Gak tahu tuh tumben dia lagi demen rebahan sambil nonton tipi aja di ruang tamu Itor. Sementara si Cica masih aja di dapur nyuplai gorengan yang meski masih panas hayuh aja digares sama orang-orang. Gorengan berupa kentang dijadiin kayak perkedel, dicampur keju yang dibungkus sama tepung lumpia. Enak, kok. Sumpah! Yang laen makannya pake saos sambel, gue mah gak demen pake sambel. Soalnya saos sambelnya itu yang cap jempol, konon pedes banget.

 

Setelah maen kartu, lanjutlah kita ke acara tuker kado. Si Tiyo mah emang dasar males banget, semuanya berupa termos dan tupperware. Gue dapet botol minuman, sama kayak Itor. Joyce dan DM kebagian tupperware. Dan gue, hehehe, ngasih komik Benny & Mice ke Tiyo karena gue tahu dia demen banget komik dan kartun yang lucu-lucu. Benny & Mice kan mirip-mirip The Simpsons yang emang kegandrungannya Tiyo.

 

Sehabis itu, sesi pemotretan. Dan ternyata inilah sesi paling melelahkan. Bukan

apa-apa. Susah banget nyuruh orang-orang ini berpose serius. Udah rapi-rapi diatur posenya, ada aja yang ngerusak tatanan. Hihihihi. Belum lagi karena posenya yang aneh-aneh itu bikin kita semua ngakak gak selesai-selesai. Ada pose yang di depan pager seolah-olah berada di balik jeruji penjara. Terus ngejejerin kepala di pembatas teras rumah Itor. Saling nempelin jidat dalam bentuk melingkar. Ada-ada aja dah.

 

Udah, ah. Tahun depan kayaknya giliran rumah lu, nih, Yo! See you, Guys!


Posted at 08:36 am by langitmerah
Komentar (1)  




Previous Page Next Page
 



Apa arti sebuah nama?
Ketika kita menyebutnya mawar
Dengan nama lain pun dia akan tetap sama harumnya;

(Potongan Monolog Juliet dalam Romeo & Juliet, William Shakespeare)







 
<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30



Be understanding to your enemies,

Be loyal to your friends.

Be strong enough to face the world each day.

Be weak enough to know you cannot do everything alone.

Be generous to those who need your help.

Be frugal with what you need yourself.

Be wise enough to know that you do not know everything.

Be foolish enough to believe in miracles.

Be willing to share your joys.

Be willing to share the sorrows of others.

Be a leader when you see a path others have missed.

Be a follower when you are shrouded by the mists of uncertainty.

Be the first to congratulate an opponent who succeeds.

Be the last to criticize a colleague who fails.

Be sure where your next step will fall, so that you will not tumble.

Be sure of your final destination, in case you are going the wrong way.

Be loving to those who love you.

Be loving to those who do not love you, and they may change.

Above all, be yourself.





 
Contact Me

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed