|
Tapi pertanyaan lainnya, siapa yang akan terkena efek kejut ini? Dalam kasus Amrozy cs yang dari sudut pandang kalangannya menganggap kematian mereka adalah sebuah perjuangan, jihad fisabililah, perjuangan di jalan Allah, keterkejutan yang terjadi justru bisa jadi memicu semangat yang semakin meletup-letup untuk mengikuti jejak Amrozy. Dan peledakan bom di tempat umum belum tentu berhenti ketika bedil meletus dan Amrozy cs terkapar. Lalu, terpidana mati karena mengedarkan narkoba, adakah kemudian ini menimbulkan efek kejut untuk menghentikan peredaran narkoba? Rasanya tidak, karena narkoba terus beredar dan hukuman mati tetap terjadi. Engkau bilang atas nama keadilan, mata ganti mata, nyawa dibayar nyawa. Keluargaku dibunuh si anu maka aku pun ingin si anu turut dibunuh. Dan kita akan terus menjadi makhluk pemangsa sesama sampai kapan pun, dengan mengatasnamakan keadilan. Dan Dewi keadilan akan mengintip dari balik penutup matanya dan melihat, siapa lagi yang layak dipancung hari ini? Dan seolah kematian adalah hal yang lumrah, kematian jadi sesuatu yang akrab. Engkau mungkin akan bertanya kepada saya, adakah saya pernah mengalami keluarga saya mati disembelih di hadapan saya dan apa yang saya rasakan kala itu, bukankah seonggok dendam, amarah yang menyala-nyala? Betulkah saya akan tetap menentang hukuman mati bila satu dari anggota tubuh saya harus tanggal karena terkena bom itu? Mungkin saya akan dilanda amarah, mungkin seumur hidup saya akan dilanda dendam, tapi kuasa kematian, harus saya pahami, bukanlah ada pada saya. Engkau akan bertanya lagi, kalau saya menentang hukuman mati, kenapa Amrozy cs diizinkan menghukum mati banyak orang yang dianggap tak sejalan dengan dirinya? Saya rasa gugatan ini memang sebaiknya dipertanyakan kepada siapapun yang menghalalkan membunuh orang lain. Ini yang harus digarisbawahi. Mereka yang menghalalkan pembunuhan untuk tujuan apapun jelas menihilkan sang empunya kuasa atas kematian. Beriman tanpa jadi Tuhan. Yang pasti, nyawa seseorang itu memiliki nilai yang mulia, terlepas dari ketidakmuliaan si makhluk bernyawa ini. Tapi pada dasarnya, setiap makhluk diciptakan bernilai dan berharga. Manusia pun sama berharganya sekaligus juga sama nistanya. Sehingga meniadakan nyawa seseorang dari kehidupannya, tentu merupakan hal yang ironis. |