|
![]() Barangsiapa mengikuti tetralogi Laskar Pelangi dan kini sudah berada di ujung pembacaan, harap maklum bila saudara harus kecewa karena gagal menemukan kisah tentang tokoh pada judul buku keempat tetralogi tersebut: Maryamah Karpov. Saya sendiri berharap akan mengetahui siapa gerangan Maryamah Karpov yang sepanjang tetralogi hanya muncul pada buku Sang Pemimpi. Itu pun hanya disebut Mak Cik Maryamah, dengan seorang anak perempuan yang senang bermain biola. Jadi cara membaca Maryamah Karpov dengan baik dan benar adalah, pertama, jangan terlalu berharap menemukan sosok Maryamah Karpov secara detail. Dan jangan pula mereka-reka hubungannya dengan tokoh utama kisah kita ini, Ikal. Hanya disebut sebagai seorang perempuan tua yang pintar menjalankan langkah-langkah biji catur menurut Karpov. Kedua, kendati di bagian penjelasan tentang penulis dan prakata dari penerbit bahwasannya buku Andrea Hirata itu diberi genre baru: Cultural Literary Non Fiction, jangan pula menganggap kisah yang tertuang ini sebagai kejadian nyata. Tetaplah arahkan koridor pembacaan saudara bahwa bacaan ini adalah karya fiksi, rekaan. Kalau pun ada nama tempat dan nama tokoh yang nyata, tapi sejumlah penuturan cerita ini agak ganjil untuk diterima sebagai kenyataan. Ketiga, karena judulnya itu membuat kita terkecoh, asumsikan saja bahwa penerbit Bentang sudah telanjur sesumbar memampang judul buku keempat sejak penerbitan buku kedua walau sebetulnya naskahnya saja belum tentu ada. Sehingga pada saat arah penceritaan Andrea berubah, pihak penerbit rada ogah mengubah judul sehingga ditambahkan saja sub judul: Mimpi Mimpi Lintang. Keempat, kendati telah ada judul yang melampirkan nama Lintang, salah satu anggota Laskar Pelangi yang cukup fenomenal, jangan pula berharap porsi Lintang akan berlebih. Tokoh itu hanya sekali-sekali saja muncul. So, bayangkan saja Lintang di sini bukan sebagai sosok tetapi sebagai sebuah metafor atau sampiran saja. Mungkin Andrea teringat sebuah novel yang rada ilmiah karangan Alan Lightman, Mimpi Mimpi Einstein. Jadi nggak perlu terlalu berharap menemukan secara detail sosok Lintang di sini, sama halnya dengan nama Maryamah Karpov yang hanya dikisahkan sebanyak dua paragraf saja. Kelima, membaca buku terakhir Laskar Pelangi ini, saya jadi teringat ketika menonton episode terakhir Pirates of Carribean (walau ada juga judul tentang Pirates of Carribean ini dalam novel tersebut). Banyak hal tak penting yang membuat kita terpaksa mengikutinya padahal itu tak akan mengubah keseluruhan alur. Sama halnya dengan novel terbaru Ayu Utami yang tebal itu, Bilangan Fu. Jadi, ketika ada beberapa bab yang kelihatannya membosankan, silakan lewatkan saja. Inti cerita hanya ada pada beberapa bab saja, sisanya mungkin hanya sekadar membuat buku jadi lebih tebal dan mahal. Keenam, kendati begitu mengecewakan, saya tetap mengacungkan dua jempol kepada Andrea Hirata yang berhasil menancapkan fenomena baru dalam dunia kesusastraan negeri kita yang mulai murung karena tak lagi ada karya sekaliber Para Priyayi-nya Umar Kayam, Nyonya Talis-nya Budi Darma atau Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari. |
| Tiyo January 19, 2009 11:48 AM PST Pada perhatiin gak sih.. covernya berubah, waktu preview di buku 1-3 kayanya si cewek pemain biola gak pake kerudung deh. I wonder why is that. | ||
| selfi December 12, 2008 08:48 AM PST hehhe... yupe, sempet terkecoh juga euy. trus jadinya kaya potongan2 kisah pendek di tiap2 mozaik walo antara mozaik yg satu ke berikutnya ttp berkesinambungan.. tp overall, ga rugi lah beli dan baca novelnya :) salam kenal, selfi | ||
| eethore December 10, 2008 09:03 AM PST bah, gw baru baca berapa bab doang coy. lu udah tulis resumenya...dari hongkong lah !!! | ||
| Tiyo December 10, 2008 07:36 AM PST Good review, Mon! Pas baca 2 alinea paling awal, hampir aja gw kehilangan selera baca Maryamah Karpov. Tapi sesudah baca habis malah jadi penasaran, hehe.. Sabaaaar nunggu nyokap selesai baca.... | ||
| Leave a Comment: |