Cak Munir yang ada di surga. Semoga dikenanglah namamu.
Engkau mungkin bukan Simson yang memiliki kekuatan ilahi yang sanggup
merubuhkan gedung besar. Tubuhmu cenderung kecil dan ringkih. Namun di
balik tubuh kecilmu itu tersimpan kepedulian yang besar untuk mereka
yang terampas keadilannya. Kau habiskan seluruh perhatianmu bagi mereka
yang terhilang dan tersisih. Segenap pengetahuanmu telah kau abdikan
untuk membela mereka yang dilanda kesewenang-wenangan.
Cak Munir yang ada di surga. Semoga tak dilupakan namamu.
Engkau tentu tahu kisah Daud melawan Goliat. Bukan tombak yang membuat
Goliat terkapar, melainkan hanya sebutir batu. Namun batu itu begitu
jitu menghantam titik lemah sang raksasa sehingga ia terjungkal dan
semaput. Kau pun tak memiliki armada perang dan tak bersenjatakan
senapan yang terkokang. Melainkan hasrat yang menggebu-gebu demi
tegaknya hak asasi manusia. Hak untuk bebas dari rasa takut.
Cak Munir yang ada di surga. Semoga diingat selalu namamu.
Kepergianmu mengundang tanda tanya. Betulkah engkau dipaksa pergi?
Orang sepertimu rupanya dianggap tak layak mendiami negeri ini. Orang
sepertimu hanyalah menjadi sebutir kerikil di dalam sepatu lars para
petinggi. Keberadaanmu begitu mengusik, mengganggu, membuat tak nyaman.
Sehingga di atas langit Hungaria nyawamu mesti lepas manakala pesawat
Garuda GA-974 tengah membawamu ke Amsterdam empat tahun silam.
Cak Munir yang ada di surga. Semoga dikenanglah namamu.
Adakah engkau mendengar lagi jeritan sunyi dari batin mereka yang
terampas dan terhempas? Karena keadilan belum bisa berdiri tegak lurus.
Karena kekejian melanda terus menerus. Dan negeri ini kehilangan sosok
yang begitu tulus menemani mereka yang hak hidupnya tergerus.
Cak Munir yang ada di surga. Semoga diingatlah selalu namamu.
Baiklah kami mencoba melanjutkan jejakmu yang sempat terhenti. Untuk
menjadi teman bagi mereka yang tersisih. Untuk membela mereka yang
diperlakukan tidak adil. Untuk membenci kejahatan dan menghargai
kehidupan. Karena negeri ini rindu suasana tenteram. Karena negeri ini
ingin melihat Bunda Pertiwi tersenyum.