|
Benjamin Button versi layar lebar yang diadaptasi Eric Roth dan Robin Swicord dan digarap oleh Sutradara David Fincher, adalah seorang bayi berbentuk aneh karena sekujur tubuhnya keriput layaknya pria renta. Dia menangis khas seorang bayi. Ayahnya, Thomas Button, segera melarikannya dari kediamannya di tengah kesedihan karena isterinya meninggal setelah melahirkan dan kecewa karena memiliki anak bertubuh aneh. Benjamin Button versi cerpen dan Benjamin Button versi film memang berbeda. Memang, inti cerita keduanya serupa yakni berkisah tentang kehidupan seorang pria yang lahir dalam keadaan tua dan mati saat usia bayi karena usianya berjalan mundur. Namun ketika Fitzgerald bertutur lewat cerpennya dengan lucu dan penuh sentuhan komedi, Eric Roth yang juga mengadaptasi Forrest Gump cenderung menyajikan kisah yang sarat dengan drama. Hampir keseluruhan kisah mengundang haru. Dimulai dengan kisah seorang lelaki buta yang menciptakan jam dinding yang jarumnya berputar berlawanan arah semestinya karena mengenang kematian anaknya di medan perang dan berharap bisa memundurkan waktu sehingga bisa kembali berjumpa dengan anaknya. Ditambah lagi saat hubungan cinta Benjamin dan Daisy Fuller yang sangat romantis harus berakhir. Benjamin Button rekaan Fizgerald tak terlalu dipenuhi kisah romantis yang mendayu-dayu. Dia menikah dengan Hildegarde Moncrief yang kemudian meninggalkannya ke Itali saat Benjamin kuliah di Harvard. Kelucuan yang dikisahkan Fitzgerald dipenuhi ironi. Ketika usia Benjamin delapan belas tahun dan siap kuliah, dia ditolak mentah-mentah saat mendaftar karena penampilannya yang tua renta layaknya berumur lima puluh tahun. "Saya berusia delapan belas tahun!" pekik Benjamin yang dibalas dengan usiran oleh bagian pendaftaran. "Saya kasih kamu waktu 18 menit untuk segera keluar!" Belum lagi ketika dia dipanggil oleh pemerintah Amerika karena pangkat Letnan Kolonel yang sempat ditinggalkannya seusai dia ikut perang beberapa waktu lampau akan dinaikkan menjadi Brigadir Jenderal, kembali staf angkatan darat Amerika menolaknya karena penampilannya layaknya ABG berusia belasan tahun. Film The Curious Case of Benjamin Button yang tayang beberapa waktu lalu itu dari segi kualitas cukup mempesona. Terutama tata riasnya yang mampu menyulap Brad Pitt berwajah renta lantas perlahan-lahan semakin muda bahkan jauh tampak muda dari usianya sekarang, mendekati penampilannya saat bermain sebagai JD dalam Thelma dand Louis sekitar tahun 1991. Begitu juga permainan konflik dan drama yang mendayu-dayu tentu mampu mengharu biru pemirsanya. Hollywood memang butuh cerita yang seperti itu, lebih menyentuh dan tentu saja diharapkan lebih laku. Warner Bros seolah tak mau ambil risiko membuat film yang sepenuhnya komedi dan agak datar sebagaimana kisah aslinya yang dikutip dari kumpulan cerita Fitzgerald, Tales of the Jazz Age. Formula Love & Sex tetap menjadi jualan yang sejalan dengan aroma Hollywood. Semua yang terbiasa dengan tayangan renyah versi Hollywood tentu akan berkerut kening bila menonton Osama karya Siddiq Barmak, atau menggaruk-garuk kepala mengikuti jalan cerita Turtles Can Fly karya Bahman Ghobadi. Kendati masuk 13 nominasi Oscar, saya menilai film ini masih kalah jauh dibanding Forrest Gum ataupun Dances With Wolves. Kisahnya lebih mirip Titanic karena dikisahkan secara kilas balik lewat sebuah buku harian bersama penuturan perempuan renta yang tak lain adalah Daisy Fuller yang mengisahkan latar belakang Benjamin Button kepada anaknya, Caroline. Film yang durasinya lebih dari dua setengah jam ini cenderung lambat dan cukup membosankan, layaknya drama nominasi Oscar. Akting Brad Pitt yang dinominasikan sebagai aktor pria terbaik tak terlalu istimewa, bahkan cenderung sangat standard, jauh lebih keren saat ia bermain dalam Legend of the Fall . Kita tunggu hasil perebutan piala Oscar nanti. Akankah Brad Pitt mampu menyingkirkan Richard Jenkins, Frank Langella, Sean Penn dan Mickey Rourke melalui aktingnya sebagai Benjamin Button? Saya justru menunggu cerita pendek Fitzgerald ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. |
| Leave a Comment: |