Entry: Opera Bukit Tengkorak Tuesday, February 17, 2009



Sejak beberapa kali saya menonton JESUS CHRIST SUPERSTAR, baik yang versi indoor maupun outdoor, terbersit dalam kepala saya ingin pula bikin drama musikal yang megah seperti itu. Sayangnya saya tak pandai main musik, tak paham solmisasi, cuma bisa menuang kata-kata. Tapi ternyata kesempatan untuk menulis naskah pun tak mudah, ada saja halangan, bahkan lama-lama kelupaan. Sampai semalam saya mendadak teringat obsesi itu. Lantas saja semalaman saya menulis sejumlah syair, merangkainya agar lebih menarik. Tadinya saya mau memasang judul MISALKAN KITA DI GOLGOTA, mencontek salah satu sajak Goenawan Mohamad, MISALKAN KITA DI SARAJEVO. Tapi, kok, nggak sreg, maka terpilihlah judul OPERA BUKIT TENGKORAK. Biar rada-rada serem.

Saya memang tak seratus persen menjiplak idenya Tim Rice dan Andrew Lloyd Webber. Saya pingin mengembangkan situasi saat Tuhan Yesus membawa salibnya, tergantung di sana dan mengucapkan tujuh perkataan salib. Saya mau menekankan bagian itu saja. Dan semalam saya berhasil menyelesaikannya sekaligus saya ketik pagi ini. Ini masih draft awal karena masih berbentuk kumpulan syair belum digubah jadi lagu. Saya masih butuh beberapa teman yang jago nulis lagu untuk bantu saja merampungkan drama musikal ini.

Saya sendiri tak tahu persis mau diapakan naskah dan lagu-lagunya nanti. Mungkin bisa dipakai dalam drama paskah gereja saya, atau mau dipakai di gereja lain, belum ada pikiran ke situ. Saya cuma ingin menulis naskahnya. Setidaknya, obsesi saya tidak cuma di awang-awang. Dulu saya pernah cukup berhasil menyadur lagu LITTLE DRUMMER BOY menjadi naskah drama musikal BOCAH PENABUH GENDANG dan dipentaskan di acara natal gereja saya. Tak mengecewakan karena memang ada teman yang pintar menggubah syair yang saya buat menjadi nyanyian yang enak didengar.

Yah, semoga naskah ini ada gunanya....

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments